Breaking News
Loading...

Alm Setyo

Lahir pada tanggal 29 Juni 1958 di kota Blitar. Dia adalah sosok Soekarno bagiku. ketegasannya, keberaniannya, dan kelembutannya adalah sikap yang Ku rindukan selama ini. Meskipun ku hanya bersamannya selama 8 tahun saja, tetapi ku sudah menyerap arti hidup darinya. Diusia 6 tahunku, ketika Ia menderita sakit lumpuh dan menyebabkan Ia harus di PHK karena tidak mampu lagi berjalan dengan tegap dan penyakit strok yang dideritannya. Tetapi karena kegigihannya, Ia tak mau merepotkan seseorangpun.

Beberapa bulan setelah kesakitan itu, Ia tetap berusaha mencari pekerjaan. Apakah yang didapat dari seseorang yang untuk berjalan saja tidak tegap, akhirnya Ia mendapat pekerjaan dari kawan lamanya yaitu berjualan kerupuk.

Setiap malam dikirim sekarung krupuk untuk dijual kembali ol;eh kawan lamanya, dengan menjual Rp.800, Ia hanya mendapat keuntungan 100 rupiah per 10 pcs krupuk yang dijajakan di Pasar Asem (Simo).
Dirumah Kawan Lama Bapak (Pengusaha Krupuk)
Dirumah Kawan Lama Bapak (Pengusaha Krupuk)
Seseorang yang kuat, tabah, tidak mau meminta-minta jikalau masih mampu. Kejadian itu ketika kami sedang mudik ke Blitar untuk tujuan berobat Bapak, usiaku kala itu sekitar 8 tahunan, hari dimana hari terakhirku bersamannya diwaktu yang lama. Berangkat dari rumah pagi menuju ke Stasiun Surabaya Kota dengan tujuan Stasiun Kesamben, kala itu walaupun tidak dalam nuansa liburan ataupun hari raya, suasana stasiun sangatlah padat, Dengan keadaan Bapak yang tidak mampu berjalan dengan lancar (terpincang-pincang), Bapak tidak mampu untuk naik kereta yang begitu tinggi dan penuh sesak dengan kerumunan orang. Walaupun Ia sudah menyeruak masuk, tetapi tidak bisa juga masuk.Hal itu terjadi sampai beberapa kereta, sampai pada kereta terakhir (kereta malam) yaitu sekitar pukul 21.00 jadwal kereta itu. Alhamdulillah ada seseorang yang berbaik hati membantu Bapak menaiki kereta bersamaku. Tepat pukul 00.00 malam kereta tiba di stasiun kesamben, kami beranjak pulang dengan ojek, melewati hutan jati yang begitu gelap bersama Bapak.

Kami sampai dirumah kira-kira pukul 00.30 an, sampai rumah Bapak memeluk Alm Nenekq dengan menangis. Aku oleh Bibiku diajak kekamar untuk tidur, karena keadaannya memang sangat haru. Mungkin agar Aku tidak ikut larut dan bersedih hati karena Bapak menangis.

Beberapa minggu disana bukanlah kesembuhan yang didapat, malah wajah yang membiru, dengan keadaan yang terlihat lebih parah. Dalam kondisi itu, Bapak marah-marah terus dengan Ibu. Mungkin sudaah capek dengan penyakit yang dideritanya. Namun Ibu tetap sabar menenangkan Bapak.

Beberapa hari di Blitar, Kami mendapat kabar bahwa keadaan Bapak semakin parah. Keesokan paginya Ibu dan Aku berangkat  menggunakan kereta patas paling pagi. Aku bilang pada Ibuku bahwa Aku ingin membelikan roti untuknya. TEtapi dalam keadaan haru Ibu bilang: nanti saja belinya disana.

Innalillahi, Bapak berpulang pukul 10.00 tepat pada Kamis Pon, 23 November 2000.
Kepada Bapak yang ada disana, kukirimkan doa untukmu selalu. Namamu adalah inspirasiku, kegigihanmu adalah semangatku..

Suatu hari nanti, Kau akan melihat Anakmu meneruskan perjuanganmu, yakni berguna bagi keluarga, dan semua orang, serta akan selalu mengabdi baik agama, bangsa dan tanah air.. Amiiiiinn


Teringat ketika Bapak berjualan dipasar, Akupun ikut bersamanya ketika hari minggu. Aku ikut membantu berjualan diatas jembatan kayu pasar. Ya begitulah tempat yang didapat kami, karena memang kami tidak punya lapak dan itupun tempat pemberian dari tetangga kami. Berangkat pukul 02.00 dini hari dengan memboncengku diatas ontelnya sebelah depan, dan tidak lupa membawa sekarung krupuk yang diikat erat diboncengan belakang. Berjualan hanya sampai pukul 07.00-08.00 saja, karena memang krupuk dangangan Bapak biasanya cepat laku, dan terkadang masih sisa juga.Tak banyak yang Ia dapat, hanya sekitar 5000 rupiah perhari, itupun kalau dagangannya habis.

Beberapa hari disana akhirnya aku pulang, namun pulang dengan Pak Deku bukan Bapakku. Berharap agar Bapak bisa sembuh kembali sambil bersedih aku melihat kondisinya waktu itu.

Beberapa hari dirumah, Bapak ingin ke Blitar lagi untuk berobat, kali ini dengan Ibu berangkatnya, dengan membawa mobil saudara, berangkatlah Bapak diantar beberapa kerabat. Ibu hanyaa 2-3 hari saja disana. Setelah itu pulang ke Surabaya, karena Aku dan Kakakku dirumah.


Ketika kami sampai, Bapak sudah tiada.

Sampai jumpa dialam sana. Rhyme In Peace.

 
Toggle Footer