Breaking News
Loading...

Ketika Pendidikan Akhlak dibelakang Teknologi

Sumber Gambar disini
Tepat di usia TK saat saya dan kedua sahabat kecil saya Samsul dan Syaiful memulai untuk belajar mengaji. Ketika itu tahun 90 an tepatnya, Guru Kami Alm. Kyai Saud yang kala itu memang mempunyai jiwa yang sangat disiplin dan tegas dalam melalukan pengajaran. Beliau menerapkan pendidikan mengaji yang mungkin sekarang bila diterapkan pada santri masa kini tidaklah cocok.
Beliau tidak segan-segan memukul dengan kayu penjalin yang besar atau kawat yang lumayan besar juga. Tapi metode itu Kyai Kami lakukan demi santri-santriwati yang kedepannya agar lebih giat lagi dalam belajar mengaji.

Saya masih ingat, jadwal mengaji kala itu. Senen-Rabu adalah belajar membaca Al Quran dengan langsung diajar oleh Beliau. Bila saat Uruk (Menyemak) Kami yang membacanya plegak pleguk dan tadwidnya salah, maka ceplesan kayu penjalin akan Kami terima.Tetapi dengan ceplesan itu bukan kapok yang Kami rasakan, tetapi malah lebih bersemangat lagi dalam mengaji. Kamis diliburkan, Jum'at adalah pembacaan diba' atau "Dibaan". Yang memimpin dulu biasanya Ustadz Dani, Ustadz Slamet, dan Ustadz Toni. Membaca shalawat Nabi bersama-sama demi meneladani Nabi Muhammad.
Sabtu dan Minggu adalah mengaji Kitab Kuning (Yang sudah Khatam Al Quran), dan menulis Arab serta belajar ilmu Tajwid. Semua rutinitas tersebut Kami lakukan dengan senang hati.

Belawanan dengan arus teknologi yang kini sudah masuk dalam era globalisasi modern. Dimana akal lebih didahulukan daripada aklak, terbukti dengan mulai bergesernya nilai-nilai dan norma kesusilaan serta norma agama yang dulu sudah mentradisi di negara Kita. Metode jaman Kami dulu bila diterapkan sekarang ini maka urusannya adalah HAM, tuntut dan lapor ke kantor Polisi. Padahal sesekali metode itu HARUS dilakukan dengan batasan tidak sampai menceriderai dan timbul luka.
Agar kenapa? generasi ini tidak cengeng dalam menghadapi era kedepan.

Orang tua lebih mengutamakan anak untuk les belajar bahasa asing meskipun bayarnya mahal dibanding dengan ikut mengaji di TPA tanpa biaya sekalipun.Para Orang Tua lebih bangga anaknya pandai mengoperasikan komputer daripada pandai mengaji. Akibatnya lihat apa yang terjadi?
Penyimpangan-penyimpangan sosial yang banyak dilakukan oleh anak-anak. Itu salah siapa? Teknologi atau Orang Tuanya? . Anak usia 5 tahun sudah dibelikan TAB dan diberikan kebebasan lagi untuk mengoperasikannya. Boleh sesekali meminjamkan , tapi jangan dulu diberikan khusus tanpa pengawasan. Anak sekecil itu harusnya diberikan pondasi yang kuat dimana kelak Anak-anak Kita akan bisa memfilter dengan sendirinya.

Lantas apa yang harus dilakukan agar generasi penerus ini menjadi lebih baik dari saat ini?
Ada beberapa tips yang saya peroleh dari nasehat guru Saya.

  1. Berikan pondasi dasar pada anak yaitu pendidikan akhlak dan agama. Kuatkan pendidikan awal anak pada pendidikan moral ini, karena nantinya Mereka akan bisa menfilter sendiri mana yang salah dan mana yang benar. Dan dengan begitu sitidaknya sudah Kita ajarkan anak Kita tentang pendidikan moral dan agama, agar kelak Mereka selain menjadi orang yang sukses, tetapi juga menjadi orang yang bermoral dan berbudaya.
  2. Berikan perhatian khusus pada anak, apa yang dia kerjakan hari ini, apakah dia bahagia. dan sebagainya. Sehingga anak tidak akan sibuk sendiri dengan bermain gudget, tetapi dia sudah merasa nyaman karena mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuannya.
  3. Jangan berikan fasilitas yang belum sesuai dengan usiannya. Berikan apa yang hanya menjadi kebutuhanya, Sesekali berikan sesuatu sebagai hadiah karena prestasinya.
  4. Bila sudah diberikan kepercayaan untuk mempunyai HP, maka berikan pengawasan khusus. Bila perlu periksa secara berkala.
Kalau ada tambahan lagi akan segera saya update. Demikian article yang singkat ini, semoga ada manfaatnya.
 
Toggle Footer