Breaking News
Loading...

Geologi Semeru

Morfologi 

G. Semeru berada dalam satu kelurusan yang berarah selatan-utara dengan komplek G. Jambangan dan Pegunungan Tengger. Komplek G. Jambangan merupakan yang tertua yang terletak diantara komplek Tengger dan Semeru.
Semeru memperlihatkan bentuk kerucut yang sempurna jika dilihat dari arah selatan dan tenggara, namun sesungguhnya bentuknya tidak sempurna betul karena dibagian puncak mempunyai bentuk yang rumit. Kondisi puncak ini disebabkan oleh perpindahan kawah-kawahnya dari baratlaut ke tenggara. Mahameru ( 3676m) merupakan dinding tubuh kawah tua di bagian utara, sedangkan bagian yang muda berkembang ke arah tenggara dan selatan.
Morfologi komplek G. Semeru- Jambangan dibentuk oleh Gunungapi Kuarter tua dicirikan oleh bentuk morfologi yang telah mengalami denudasi, pola aliran sungai yang kasar dan lembah yang dalam serta terdapatnya sisa dinding kaldera di daerah puncaknya. Morfologi yang lebih muda terdiri dari puncak dan tubuh G. Mahameru dan G. Semeru. Kerucut parasit diantaranya G. Papak dan G. Leker yang terletak di lereng timur G. Semeru.

Stratigrafi

Batuan vulkanik yang terdapat di komplek G. Semeru-Jambangan merupakan hasil erupsi dari beberapa titik letusan yang terpisah. Berdasarkan jenis litologi, posisi stratigrafi dan sumber erupsi, batuan Komplek G. Semeru-Jambangan dapat dibagi menjadi 5 (lima) kelompok batuan dari tua ke muda adalah : endapan G. Jambangan, G. Ajek-ajek, G. Kepolo, G. Mahameru dan G. Semeru. Endapan G. Semeru yang merupakan endapan termuda terdiri dari aliran lava, aliran piroklastika, jatuhan piroklastika, guguran puing (debris avalanche) dan lahar. Aliran lava merupakan hasil erupsi pusat (umumnya berkomposisi basal) dan erupsi samping (berkomposisi andesit dan basal).

Petrologi 

Batuan vulkanik Komplek G. Semeru umumnya bertekstur porfiritik dengan masa dasar hipokristalin. Fenokris utama pada lava adalah plagioklas, klino piroksen, mineral opak, orto piroksen dan olivin. Kadang-kadang fenokris memperlihatkan tekstur sub-ofitik dan glomeroporfiritik, sedangkan pada masa dasar menunjukan tekstur pilotaksitik. Secara petrografis perubahan komposisi dari batuan basa sampai asam ditunjukan dengan variasi perbandingan, tipe komposisi fenokris. Umumnya olivin lebih banyak terdapat pada basal dan andesit basa, sedangkan orto piroksen lebih banyak pada andesit asam. Amfibol hanya ditemukan pada dasit lava tua G. Ajek-ajek.

Struktur Geologi 

Struktur geologi yang berkembang di komplek G. Semeru terdiri dari struktur sesar, kaldera, kawah dan maar. Kelurusan struktur atau sesar mempunyai arah baratlaut-tenggara, timur-barat dan timurlaut-baratdaya umumnya mempunyai indikasi pergeseran litologi dan dianggap sesar normal. Kaldera Jambangan dan Ajek-ajek dicirikan oleh bentuk morfologi berupa suatu dasar kaldera, dinding curam kaldera dan bentuk vulkanik tua. Tidak kurang dari 5 (lima) buah maar terdapat di komplek G. Semeru-Jambangan, yaitu : Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Pakis dan Ranu Darungan. Hampir semua maar yang berdiameter 200m-1km tersebut terisi oleh air. Kawah yang terdapat di puncak G. Semeru terdiri dari Kawah Mahameru yang sudah tidak aktif , sedangkan kawah yang masih aktif adalah Jonggring Seloko. Kawah termuda di G. Semeru ini terletak paling tenggara dengan arah bukaan ke arah tenggara.
 
Toggle Footer