Breaking News
Loading...

24 September Tani Indonesia Lebih Jaya Era Suharto

Tepat tanggal 24 September adalah dimana adalah hari Tani Nasional. Tepat tanggal 24 September 1960 Presiden Republik Indonesia Soekarno menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960).

Petani Pahlawan Pangan Bangsa
Dihari itu juga cikal bakal Indonesia menjadi bangsa penghasil beras terbesar didunia dimulai. 

Jenderal Besar TNI Purnawirawan Haji Muhammad Soeharto (EYD: Suharto) lahir di dusun Kemusuk, Bantul, Yogyakarta pada 8 Juni 1921 dan meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun. Presiden Indonesia terlama ini (1967—1998) sering dijuluki “The Smiling General” karena raut mukanya yang selalu tersenyum di muka pers dalam setiap acara resmi kenegaraan. Soeharto tumbuh dan besar di keluarga dan lingkungan petani. Semasa kecil dan tinggal bersama pamannya, nampak bakat dan kegemaran Soeharto dalam bidang pertanian. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian.[http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto].

Pak Harto Bersama Ibu Tien
Program kerja pertanian Pak Harto berbuah prestasi. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraria pengimpor beras terbesar pada tahun 1966, mampu mencukupi kebutuhan pangan di dalam negeri melalui swasembada beras pada tahun 1984. Pada tahun 1969 Indonesia memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton beras, sementara pada 1984, bisa mencapai 25,8 juta ton beras.[Majalah Padi, edisi 13 Tahun 2008]

Kesuksesan ini mengantarkan Pak Harto diundang berpidato di depan Konferensi ke-23 FAO (Food and Agriculture Organization) /Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia), di Roma, Italia, 14 November 1985.

Berpidato  Di Konfrensi FAO
Pernyataan penting Pak Harto yang ditujukan kepada negara-negara maju anggota FAO bahwa selain bantuan pangan, yang paling penting adalah kelancaran ekspor komoditi pertanian dari negara-negara yang sedang membangun ke negara-negara industri maju. Ekspor pertanian bukan semata-mata untuk meningkatkan devisa, tetapi lebih dari itu, untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.[http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/s/soeharto/mti/24/depthnews_08.shtml]

Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla (2004—2009) juga menilai Presiden Soeharto juga berjasa sangat besar di bidang pembangunan ekonomi dan pertanian karena mampu menurunkan tingkat inflasi dari 650 persen menjadi 12 persen dalam beberapa tahun pertama kepemimpinannya. Selain itu, almarhum Soeharto semasa menjabat Presiden RI juga punya andil besar dalam pembangunan irigasi pertanian yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, yang sampai saat ini belum ada presiden yang mampu menandinginya.

“Itulah sumbangan terbesar dalam pembangunan ekonomi, selain membuat Indonesia ini dapat berswasembada pangan karena belum ada presiden yang dapat membangun saluran irigasi pertanian sebesar yang dibangun Pak Harto,” kata Kalla.[“Soeharto Berjasa Besar terhadap Pembangunan Ekonomi?”, Kompas, 9 Juni 2011]

Meski berkilauan prestasi dan bertaburan pujian, tentu swasembada beras pada masa Pak Harto tidak lepas dari kritik. Revolusi pertanian Soeharto digerakkan dengan sistem komando dan menerapkan diskriminasi dan intimidasi. Diskriminasi meminggirkan padi tradisional dan menggantinya dengan jenis yang kurang gurih pulen, tapi bulirnya lebih berlimpah dan waktu tanam lebih pendek. Maka dari itu, dalam setahun bisa panen dua hingga tiga kali. Mereka yang menolak ikut Inmas dan Bimas (juga program KB) bisa kena intimidasi aparat dengan tuduhan “tidak bersih lingkungan”. Menurut para ahli, kebijakan diskriminatifnya yang sengaja mengabaikan diversifikasi juga menjadi andil keterpurukan ketahanan pangan hingga saat ini. Soeharto mengonstruksikan beras sebagai budaya kelas satu, dan menempatkan bahan pangan lainnya seperti jagung, ubi, ketela, sagu, sebagai inferior.[Daud Sinjal, “Pak Harto dan Pertanian Padi”, Agrina 1 Februari 2008.]

Beda dengan era kini dimana banyak para petani yang masih dibawah garis kemiskinan. Tidak salah Mereka bila Mereka kemudian menjual tanahnya untuk mencukupi kehidupannya atau untuk usaha lain selain bertani. Karena Apa? Pertanian merupakan sumber dari ketidakpastian. Menurut Bp Ir.Didik Trisbiantoto. Msi, Beliau mengatakan bahwasannya dibidang agribisnis itu seperti halnya bisnis yang tidak bisa dipatikan hasilnya, seumpama bila terjadi gagal panen dalam berbagai sektor seperti gagal panen padi, ikan, dsb, ya sudah pasti kerugian yang didapat. Karena sampai saat ini tidak ada asuransi untuk kegiatan pertanian, perikanan, dan yang sejenisnya.

 Tidak jarang banyak para petani yang gulung tikar karena Pemerintah masih belum bisa memfasilitasi para Petani. Solusi pemerintah saat ini untuk mengatasi kelangkaan beras adalah dengan menginpor beras dari negara Vietna, Cina, Filiphina, dan negara-negara tetangga lain dimana beberapa puluh tahun silam, produk dalam negeri Kita meluber sampai-sampai Kita yang mengekspor. Dimanakah Indonesia Kita dahulu yang menjadi negara pengekspor beras terbesar?

Namun bagaimana pun, tidak bisa lekang dari potret ingatan kita betapa riang dan berseri-serinya wajah Pak Harto manakala berada di tengah-tengah petani dan masyarakat desa. Di situ ia begitu manusiawi, jauh dari gambaran seorang diktator. Kesan yang juga masih melekat adalah kepemimpinannya yang tidak bimbang dan ragu. Sekali diberi wewenang memimpin, ia menjalankannya dengan lugas dan tuntas. Dengan pengecualian dominasi berasnya dan KKN anak-anaknya di sektor pertanian, kita pantas mengagumi Pak Harto sebagai jenderal yang berhasil membangun ketahanan pangan, yang menjalankan kepemimpinannya di sektor itu sama efektifnya seperti ia memulihkan kestabilan politik dan keamanan. [Caraka Aksara].

Indonesia harus bangkit,, masih luas tanah Indonesia untuk pertanian. Jangan hanya untuk membangun sektor perumahan saja. Sektor Pangan adalah tolak ukur kesejahteraan suatu bangsa. Belum terlambat untuk mengulangi era Pak Harto sebagai negara pengekspor.


Jihan Pamuji, dari berbagai sumber.

 
Toggle Footer