Breaking News
Loading...

Cacing Tanah Yang Menghasilkan

Breeding cacing tanah mungkin bagi beberapa orang masih menjadi suatu kegiatan budidaya yang aneh didengar. Namun bisnis ini masih sangat berpeluang tinggi dan sangat menjanjikan. Tanpa perawatan yang ruwet dab ribet, cacing tanah akan menghasilkan pundi-pundi.

Artikel ini Saya tulis atas inspirasi seorang pengunjung Toko kepada kawan Saya Gianto. Sebelumnya berbisnis cacing tanah memang mempunyai prospek yang masih terbuka lebar bagi pebisnis pemula seperti Saya yang masih ingin melakukan bisnis.

Tingginya permintaan cacing untuk memenuhi kebutuhan farmasi, kosmetik, maupun pakan ternak ini membuat pelaku bisnis nya masih bertahan hingga saat ini. Potensi dari cacing tanah yang mempunyai nama ilmiah lumbricus rubellus masih tetap cerah hingga kini. Terbukti, antara permintaan yang sangat tinggi dan hasil produksi masih belum berimbang.
Seperti artikel yang pernah Saya baca disebuah majalah bisnis yakni Pak Hariadi, yang melakukan bisnis cacing ini di Magetan, Jatim.

Cacing jenis lumbricus rubellus memang memiliki khasiat bagi manusia. Diantarannya adalah cacing ini bisa digunakan untuk obat penurun pana dan demam yang sangat efektif. Bahkan sudah dikenal sejak jaman Mbah dan Buyut Kita dulu.. Tidak hanya di Indonesia, cacing lumbricus rubellus yang biasa disebut dengan cacing merah ini merupakan bahan utama dalam pembuatan obat, serta bahan kosmetik diluar negeri seperti : Korea, Jepang, Cina, AS, dan Kanada.

Permintaan cacing ini tidak dari dalam negeri saja, tetapi juga diluar negeri pun sangat besar demandnya. Untuk pemenuhan permintaan cacing dalam negeri saja Hariadi masih belum mampu memenuhi kuota permintaan cacing tersebut. Diperlukan link mitra kerjasama yang banyak untuk peternak cacing di Indonesia.

Cacing dikenal memiliki banyak keunggulannya. Salah satunya adalah ketahanan tubuh yang sangat luar biasa. Selain itu, perawatan cacing juga cukup simple. Dalam perawatan beberapa kolam cacing, tidak membutuhkan tenaga yang banyak. Menurut Harijadi, cukup satu orang untuk mengelola dan merawat puluhan kolam cacing. Pakan cacing pun juga tergolong mudah, sisa atau limbah makanan dari rumah tangga bisa dijadikan pakan cacing. Selain itu, ampas tahu, atau sayuran busuk bisa dijadikan pakan cacing juga.

“Untuk kebutuhan makan, biasanya saya memberikan sayuran kubis sisa yang saya ambil dari pasar. Kubis terlebih dulu di cacah sebelum diberikan ke kolam cacing. Enaknya berternak cacing, cacing tidak tergantung pada pemberian makan. Bahkan, untuk pemberian makan yang tidak rutin pun tidak masalah.” Ujar Harijadi.

Perkembangbiakan cacing tergolong super cepat, bahkan masa panen untuk cacing jenis lumbricus rubellus ini menurut Harijadi hanya membutuhkan waktu 40 hari. Harga satu kilo untuk jenis cacing yang lumayan tinggi, membuat budidaya cacing menjadi salah satu alternatif di bidang agri. Dari pengakuan Harijadi, untuk satu kilo cacing umur 40 hari dihargai 40 – 50 ribu rupiah.

“Ukuran kolam tempat budidaya cacing, idealnya memiliki panjang dan lebar 1 x 4 meter. Untuk satu kolam biasanya diisi 15 -20 kg indukan cacing. Nah, kelebihan cacing lumbricus ini, dalam waktu 30 – 40 hari cacing sudah bisa dipanen. Dan jangan kaget, dalam waktu 40 hari 15 kg indukan cacing lumbricus bisa berkembang menghasilkan 3 kali lipat, yaitu 45 kg setiap kolam.” Tambah pria yang mengaku rutin mengirimkan minimal 60 kg cacing ke salah satu rekannya di Malang.

Hal pertama yang harus disiapkan dalam budidaya cacing ini adalah bibit cacing dan media yang akan digunakan untuk cacing. Media untuk cacing bisa digunakan grajen sisa jamur atau limbah dari budidaya jamur. Harijadi menjelaskan, grajen bekas jamur ini bisa dicampur dengan kletong (kotoran sapi) yang sudah kering atau setengah kering, serta tanah. “Jika media sudah siap, media tersebut bisa langsung diratakan di kolam. Untuk ukuran kolam bisa menggunakan 1 x 4 meter dengan tinggi 60 cm. Dasar kolam bisa dialasi batu bata yang ditata sedemikian rupa.” Ungkap pria yang juga pernah membudidayakan beberapa jenis ikan air tawar ini.

Mengingat cacing merupakan binatang dengan habitat asli di tanah, maka jangan lupa untuk mencampur tanah di media budidaya cacing. Tanah yang baik untuk campuran media cacing ini adalah tanah yang diambil di pinggir sungai. Setelah media siap, indukan cacing pun siap ditebar secara merata.

“Cacing merupakan binatang yang menyukai tempat lembab dan gampang stress jika terkena cahaya matahari. Karena itu, penting setiap hari mengecek kelembaban media. Usahakan media jangan terlalu basah dan terlalu kering. Jika kering, media cacing bisa disemprot air secara merata dan tidak berlebihan. Untuk kolam sendiri sebaiknya menggunakan iyup-iyup (atap) agar cahaya tidak masuk ke kolam.” Ujar Harijadi yang saat ini sudah memiliki 20 kolam dan berencana ingin menambah kolam lagi.

Kendala utama dalam budidaya cacing ini, menurut Harijadi adalah serangan semut serta tikus. Selain dua binatang tersebut perlu diwaspadai juga hewan predator cacing seperti katak dan kadal. Namun serangan semut dan tikus ini biasanya terjadi hanya di bulan-bulan awal budidaya. Solusi Harijadi untuk kendala ini adalah dengan menjaga kebersihan sekitar kolam. Setiap siang atau sore sisi-sisi luar kandang bisa disemprot air agar tetap bersih dan bebas semut.

Budidaya cacing, bisa dilakukan di daerah manapun. “Inilah kelebihan yang dimiliki cacing, karena di semua daerah cacing bisa hidup subur. Yang penting, media di kolam diusahan tetap selembab mungkin. Karena cacing menyukai habitat yang lembab. Saat panen atau 40 hari, cacing besar siap panen biasanya akan meminggir di pinggir kolam. Sedangkan telur dan anakan cacing biasanya akan menggumpul di tengah.” Tambah Harijadi.

Hariadi Peternak Cacing

(Dari berbagai sumber : Wartawirausaha, Majalah Elsinta edisi Agustus 2014, dan berbagai sumber referensi).

 
Toggle Footer