Breaking News
Loading...

Irradiasi Bahan Pangan

Irradiasi Bahan Pangan - Beberapa bulan yang lalu Saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya. Narasumber yang dihadirkan adalah suatu badan nasional yang mengatasi tentang Nulir, yaitu BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional).

Berbicara masalah nuklir, tentu sebagian besar dari Kita masih teringat temuan pertama pemanfaatan nuklir oleh Albert Einstein yang saat itu meluluhlantakkan dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hirosima. Menjadi lebur menyatu dengan tanah. Dan saat itulah teknologi nuklir di Jepang kini dimanfaatkan sebagai tenaga listrik dan pemanfaatan-pemanfaatan lainnya.

Sebenarnya jika menyinggung masalah nuklir untuk saat ini, sudah banyak reaksi-reaksi nuklir yang sudah dipergunakan sebagai alat bantu baik untuk mempermudah kegiatan manusia, ataupun yang berhubungan dengan interaksi antar manusia.

Pemanfaatan-pemanfaatan itu terdiri dari:
  • Kedokteran atau medis seperti ronsen, dan RMI dengan bantuan radiasi yang dihasilkan. Bahkan degan radiasi nuklir bisa digunakan untuk membunuh sel-sel kangker didalam tubuh. 
  • Listrik atau energi, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)
  • Untuk industri, Pada konstruksi jalan, pengukur kelembaban dan kepadatan yang menggunakan nuklir digunakan mengukur kepadatan tanahaspal, dan beton. Biasanya digunakan cesium-137 sebagai sumber energi nuklirnya.
  • Aplikasi komersial, dan
  • Pengawetan atau pemanfaatan pada hasil pertanian, perikanan, dll.
Yang akan Saya bahas disini hanyalah yang terakhir, yaitu pemanfaatan pada hasil pertanian dan perikanan. Karena Indonesia sendiri sangat besar potensi kelautan dan pertaniannya.
Radura Symbol For Irradiated Food
Dalam majalah ATOMOS, Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup, mutu yang memadai, dan harga tetjangkau untuk dapat menjamin. kelangsungan hidup. Bahal} pangan umumnya mudah rusak baik disebabkan oleh pengaruh cuaca, serangan serangga maupun mikroba terutama yang dapat memproduksi toksin mematikan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan teknologi tepat guna yang dapat mencegah kerusakan berlanjut. 

Teknologi pengawetan konvensional dengan cara pengeringan, penggaraman, pemanasan, pembekuan dan pengasapan serta fumigasi, sampai saat ini masih diterapkan untuk mempertahankan mutu sekaligus memperpanjang masa simpan bahan pangan. Penambahan berbagai pengawet sintetis masih seringkali digunakan meskipun memberikan dampak negatif bagi kesehatan.


Pengembangan teknik nuklir dalam bidang pangan sudah terbukti dapat menciptakan hal baru sebagai teknologi altematif guna membantu memecahkan berbagai masalah, sanitasi yang dihadapi. Beberapa contoh aplikasi teknik nuklir untuk tujuan tersebut dan telah dikembangkan antara lain untuk meniingkatan daya awet, keamanan pangan, dan sterilisasi bahan pangan tertentu.

Teknologi radiasi memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi konvensional, yaitu hemat energi dan bahan, mudah dikontrol, dapat diproses dalam kemasan yang tidak tahan panas, tidak meninggalkan residu, dan ramah lingkungan. Namun, sebagian masyararakat masih memiliki pemahaman yang keliru tentang iradiasi pada bahan pangan. Oleh karena itu sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat . tentang manfaat teknologi tersebut harus terus ditingkatkan .

Aplikasi Teknologi Iradiasi Pad a Bahan Pangan

lradiasi merupakan suatu proses fisika yang dapat digunakan untuk mengawetkan dan meningkatkan keamanan bahan pangan. Jenis radiasi yang digunakan adalah radiasi berenergi tinggi yang disebut radiasi pengion, karena menimbulkan ionisasi pada materi yang dilaluinya.

Energi yang dihasilkan oleh sumber radiasi dapat dimanfaatkan untuk tujuan menghambat
pertunasan dan pematangan serta membasmi serangga (dosis rendah) dan membunuh mikroba patogen (dosis sedang), serta membunuh seluruh jenis bakteri yang ada (dosis tinggi), sehingga mutu bahan pangan dapat tetap dipertahankan didalam kemasan yang baik selama penyimpanan.

Sumber radiasi yang dapat digunakan untuk proses pengawetan bahan pangan terdiri dari 4 macam, yaitu: Co-60, Cs-l37, masing-masing menghasilkan sinar gamma, mesin berkas elektron dan mesin generator sinar-X. Dengan menggunakan pembatas dosis iradiasi dan batas maksimum energi dari keempat sumber tersebut, maka bahan pangan yang diawetkan dengan iradiasi tidak menjadi radioaktif. Uji keamanan makanan iradiasi untuk konsumsi manusia dikenal dengan istilah wholesomeness test, mencakup ujitoksikologi, makro dan mikro nutrisi serta ujimikrobiologi dan sensorik.

Dalam teknologi iradiasi, terjadinya interaksi antara radiasi dengan materi/sel hidup dapat
menimbulkan berbagai proses fisika dan kimia di dalam materi tersebut, yang diantaranya dapat menghambat sintesa DNA dalam sel hidup, misalnya mikroba. Proses ini yang selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, yaitu menunda pertunasan, membunuh serangga dan mikroba.

Aspek Keamanan Makanan Iradiasi 
Komoditi yang akan diiradiasi wajib memenuhi kriteria higienis dan dengan kontaminasi awal serendah mungkin. Sumber radiasi pengion yang menghasilkan sinar gamma dan sinar-X untuk pengawetan bahan pangan t~lah ditetapkan batasan maksimalnya masing-masing sebesar 5 MeV dan 10 MeV untuk mesin berkas elektron. Batasan ini dibuat berdasarkan pembentukan imbas radioaktif. 
Radioaktivitas imbas baru akan timbul pada atom-atom bahan yang diiradiasi bila energi yang digunakan diatas 5 MeV untuk radiasi gamma. Batas energi untuk sumber elektron lebih tinggi karena radioaktivitas imbas yang timbul pada energi kurang dari 16MeVsangat sedikitjumlahnya dan relatifberumur pendek.

Pembentukan residu zat radioaktifyang berasal dari sumber radiasi pada bahan pangan sarna sekali tidak ada, karena radionuklida sumber radiasi tersimpan rapat dalam kapsullogam yang berlapis. Selama proses berlangsung, bahan pangan sarnasekali tidak menempel pada sumber.

lradiasi secara umum dapat digambarkan sebagai seberkas sinar yang menembus dengan kekuatan yang berbeda bergantung pada panjang gelombang dan berbanding terbalik dengan frekuensinya. Oleh karena itu,proses radiasi tidak meninggalkan residu apapun, baik pada bahan yang disinari, maupun berada di sekitamya, sehingga proses tersebut benar-benar aman, bersih dan ramah lingkungan.

Aspek Kimia
Proses penyinaran dengan menggunakan radiasi pengion merupakan proses "dingin" karena tidak menimbulkan kenaikan suhu pada bahan yang dilaluinya. Energi yang diserap bahan pangan dengan teknik tersebut jauh lebih rendah dari energi makanan yang dipanaskan. Akibatnya perubahan unsur kimia yang terjadi akibat radiasi secara kuantitatif juga lebih sedikit. Senyawa kimia yang terbentuk akibat radiasi bergantung pada komposisi bahan dan jumlahnya akan meningkat sesuai dengan bertambahnya dosis radiasi. Perubahan kimia dapat ditekan dengan mengatur suhu dan kadar air bahan, serta menghilangkan oksigen udara disekeliling bahan yang diiradiasi ..

Aspek Gizi
Sebagaimana diutarakan sebelumnya bahwa iradiasi dapat menimbulkan perubahan kimia pada bahan pangan, maka timbul kekhawatiran bahwa iradiasi dapat mempengaruhi nilai gizi dari bahan tersebut. Dari hasil penelitian terbukti bahwa hilangnya zat gizi pada makanan yang diiradiasi sampai dosis 1kGy tidak nyata. lradiasi bahan pangan pada dosis sedang (1-10 kGy) dapat menurunkan beberapa unsur mikro nutrisinya apabila udara dan suhu serta kondisi selama proses tidak diatur dengan baik.Perlakuan kombinasi antara pengaturan kondisi iradiasi (dosis, suhu, oksigen) dan teknik pengemasan dapat mempertahankan mutu dannutrisi pada bahan pangan olahan siap saji.

Beberapa jenis vitamin seperti riboflavin, niacin dan vitamin D cukup tahan terhadap radiasi, tetapi vitamin A, B, C dan E sangat peka. Pada umumnya, penurunan kadar vitamin dalam bahan pangan akibat iradiasi hampir sarna saja dengan penurunan akibat pemanasan. Pada sterilisasi panas, kadar thiamin, niacin dan pridoksin masing-masing mengalami penurunan 80, 35 dan 16%, sedangkan pada sterilisasi radiasi dengan dosis 45 kGy yang dilakukan pada suhu -79°C (C02 padat) masing-masing hanya mengalami penurunan sebesar 15%,22%, dan 2%.

Aspek Mikrobiologi
Paparan radiasi pengion dapat menyebabkan kerusakan DNA pada sel hidup termasuk sel mikroba khususnya yang bersifat patogenss Namun, aplikasi iradiasi dosis sedang (1-10 kGy) tidak dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada mikroba yang bersifat lebih patogen atau resisten terhadap radiasi. Sebagian besar bakteri patogen vegetatif, tidak berspora dan gram negatif sangat peka terhadap radiasi, sedangkan bakteri berspora umumnya lebih tahan, kecuali diiradiasi pada dosis tinggi (> 10kGy).

Aspek Toksikologi
Meskipun dengan cara analisis kimia tidak ditemukan senyawa apapun yang dapat membahayakan kesehatan, namun uji toksikologi terhadap bahan pangan yang diawetkan dengan radiasi masih tetap dilakukan, terntama apabila ada pengembangan jenis produk yang barn. Uji coba keamanan pangan dilakukan berdasarkan kode etik (ethical clearance) baik pada hewan maupun manusia. Sebagai relawan, responden perlu mengisi inform consent untuk meyakinkan kesediannya. Uji toksikologi terhadap bahan
pangan iradiasi dilakukan dengan prosedur yang jauh lebih teliti dan paling lengkap bila dibandingkan dengan pengujian terhadap proses konvensional.

Hasil pengujian pangan iradiasi yang dilakukan para pakar yang bergabung di dalam International Food Irradiation Project (IFIP) dan berpusat di Karlshrnhe membuktikan bahwa teknik iradiasi yang diterapkan untuk memproses bahan panganjauh lebih aman dibandingkan teknik pengolahan konvensional
lainnya.

Aspek Pengemasan
Persyaratan yang berlaku dalam pemilihan bahan pengemas yang digunakan sebagai pembungkus makanan atau bahan pangan yang akan diiradiasi harns tetap diperhatikan. Bahan dan teknik pengemasan mernpakan unsur yang tidak kalah penting, karena mutu dari bahan pangan yang diiradiasi sangat bergantung pada kekuatannya. Bahan pengemas yang "flexible" dalam bentuk laminasi saat ini lebih banyak disukai daripada wadah yang terbuat dari kaleng, terntama untuk pembungkus makanan siap saji yang diiradiasi. Bahan pengemas tersebut umumnya dibuat secara khusus dan bersifat tahan terhadap radiasi, suhu -79°C, kedap udara serta tidak mudah terkelupas, sehingga mampu mempertahankan mutu makanan didalamnya untukjangka panjang pada suhu kamar (28 -30°C).

Aspek Dosimetri
Sebelum bahan pangan diiradiasi, dosis yang akan diterapkan sesuai tujuannya harns sudah
diketahui. Dosimetri ditujukan untuk menetapkan tingkat keseragaman dosis, sehingga bahan pangan benar-benar menerimajumlah paparan dosis yang sarnasesuai dengan tujuan iradiasi.

Perkembangan Makanan Iradiasi di Indonesia
Penelitian makanan iradiasi sudah dikembangkan sejak tahun 1968, dan aplikasinya terns
mengalami peningkatan yang sangat nyata. Makanan iradiasi lazim pula disebut iradiasi pangan telah dikomersialisasikan meskipun hanya terbatas pada kebutuhan ekspor ke berbagai negara di Eropa,Amerika dan Timur Tengah. Komersialisasi bahan pangan iradiasi dilakukan berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 70l/MENKES/PER/VIII/2009, Undang-undang Pangan RINo.7 /1996, Label Pangan No. 69/1999 par. 34 dan peraturan perdagangan intemasional dari segi komersialisasinya.
 
Toggle Footer