Breaking News
Loading...

Seusai Pesta Lantas Mau Apa?

You used to be my party doll. But now you say the party’s over.” Begitu kata Mick Jagger. “Sudahlah. Seheboh apapun pesta malam tahun baru yang kita ikuti, sekarang pesta itu sudah berakhir.” Demikian kira-kira arti lirik lagu itu kalau kita tarik dalam konteks kekinian. Pestanya sudah usai, teman-teman. Terus setelah pesta itu usai, selanjutnya apa? Kalau pertanyaan itu diajukan dimalam itu, maka jawaban yang tepat adalah; Pulang. Terus tidur. Gampang ya menjawabnya. Tapi kalau pertanyaan itu Anda ajukan ketika bangun tidur dikeesokan paginya; mungkin tidak semudah itu lagi untuk menjawabnya.

Pulang sudah. Tidur pulas sudah. Lantas apa yang akan kita lakukan selama tahun 2014 yang sudah dipestakan sedemikian hebohnya ini? Coba saya ulang lagi pertanyaannya; “Seusai pesta, lantas apa?" Ditahun 2015 kedepan, lantas apa yang akan kita kerjakan untuk menyambut tahun baru itu. Apakah bersorai-sorai berjalan-jalan mengelilingi kota dengan memandangi keindahan kembang api?, atau dengan berjalan-jalan ke Taman Bungkul yang tahun lalu diadakan dan akan dirayakan annual.

Dulu. Saya pun seperti kebanyakan orang lainnya. Bingung untuk sekedar menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Iya yah. Sesudah pesta habis-habisan ini, what the next-nya? Kalau kemudian hari-hari baru kita dijalani biasa saja; ngapain pake pesta segala? Apa yang kita rayakan, jika demikian? Itu dulu. Sekarang saya tidak mau bingung lagi untuk menjawab pertanyaan itu.

Dulu. Saya juga seperti kebanyakan orang lainnya. Yang punya prinsip; ngapain yang kayak gitu aja elo pikirin! Sudahlah Mas Berrro, nikmati aja hidup ini. Saat ini. Besok? Ya qui sera sera saja. Yang akan terjadi, ya terjadilah. Itu dulu. Sekarag saya sudah tidak mau lagi menyerahkan hidup terserah apa jadinya nanti saja. Tentu, Anda juga begitu kan? Kita ingin belajar mengambil tanggungjawab terhadap hidup kita sendiri.

Maka sebelum malam pergantian tahun itu, saya pergi ke gunung. Gunung Semeru,  Berbekal carrier dan tenda. bersama ke tujuh sahabat saya Lalu mengadakan pesta pribadi ditengah keheningan hutan yang diiringi orchestra bunyi jangkrik, paduan suara para katak, dan petikan dawai klasik air Ranu Kumbolo yang tenang. saya dan kawan saya berangkat pada bulan oktober 2013 lalu. Bukan maksud ingin merayakan apapun, hanya ingin menjajal saja keindahan alam.

Sekarang bayangkanlah diri Anda. Duduk tepekur diatas sebuah batu besar dipinggir sungai. Dikelilingi oleh bukit-bukit yang menjaga Anda dalam silhouetnya. Dipayungi langit bertabur bintang gemintang yang kerlap kerlip pada pukul dua atau tiga dini hari. Diterangi cahaya rembulan yang tengah bersinar sempurna. Dihibur oleh irama alam yang saling bersahutan dalam komposisi yang dekondaktori langsung oleh penciptanya. Anda, seperti menjadi seorang raja yang tengah duduk di singgasana megah sekarang. Namun dalam kemegahan itu, Anda bertanya kepada diri Anda sendiri;”Seusai pesta, lantas apa?”

Semasa saya sekolah. Sudah cukup banyak pesta yang saya ikuti. hal yang paling gila. Namun, tidak ada pesta hingar bingar yang bisa menandingi kesyahduan pesta semesta di tengah malam hening yang indah itu. Sebuah pesta yang jauh dari jingkrak dan hiruk pikuk. Pesta jiwa nan mempesona. Tak mungkin untuk menahan lelehan air mata ketika hati kita menyaksikan betapa sempurnanya Sang Pencipta yang digambar dalam keagungan semesta cipataanNya. Lantas kita akan bertanya kepada siapakah akan keindahan dan harmoni yang terjadi saat ini?

Saya memilih bertanya kepada Dzat Yang Menguasai Semesta. Kita. Memang tidak bisa menjangkau-Nya. Namun kita bisa merasakan-Nya melalui semesta raya yang diciptakanNya. Di malam tanggal 28 Desember itu. Sungai di belakang saya seperti tengah menggelegak setelah seharian diguyur hujan di hulu gunungnya. Seluruh jangkrik seperti sedang berdzikir. Bangsa katak laksana tengah memanjatkan puja pujinya. Bulan seolah tengah menyalakan semua cahayanya. Bintang seperti sedang memamerkan kilaunya. Sedangkan pohon-pohon merunduk dalam belaian lembut sepoi angin.

Siapapun yang berada disitu saat itu. Pasti bisa merasakannya. Utuh. Tanpa membeda-bedakan. Termasuk seandainya ada seorang tuna netra. Dia pasti bisa melihat kesyahduannya dengan mata batinnya. Termasuk jika saja ada seorang tuna rungu. Dia pasti bisa mendengarnya melalui telinga nuraninya. Mahluk manapun yang masih memiliki jiwa, pasti akan mendapatkan pelayanan yang sama. Kesempatan yang sama dibawah langit bertabur bintang itu. Sama. Tidak ada yang membedakannya. Sehingga, setiap orang boleh bertanya; “sesuai pesta, lantas apa?”

Dan setiap orang akan menemukan jawaban yang sama. Yaitu jawaban yang dikatakan oleh semesta, katanya; “Terserah engkau saja. Kami ada untuk mendukungmu. Apapun keputusan yang engkau tentukan.”

Sekarang. Kita paham bahwa. Tuhan telah meninggikan langit yang nyaris tiada batasnya. Tuhan telah menghamparkan bumi yang kita tidak bisa melihat dimana ujungnya. Dan Tuhan. Telah menciptakan diri kita dengan segenap kemampuan yang kita sendiri tidak pernah tahu dimana puncaknya. Langit dan bumi yang nyaris tiada berbatas itu sudah Tuhan sediakan. Sedangkan didalam diri kita, sudah terdapat segala hal untuk bisa menjalani hidup ini sebaik-baiknya. Tinggal kita saja yang menentukan visi pribadi kita sendiri melalui pertanyaan ini; setelah pesta ini usai, lantas apa lagi?

Keputusannya tidak terletak pada hasil ramalan. Tidak juga bergantung kepada perilaku orang lain. Ramalan boleh saja mengatakan akan terjadi ini atau itu. Orang lain boleh saja meniru perilaku ular paling berbisa sekalipun. Namun, nasib kita; bukanlah mereka yang menentukannya. Masa depan kita sedikit banyaknya ditentukan oleh jawaban kita atas pertanyaan itu; seusai pesta, lantas apa? Karena jawaban itulah yang akan sangat menentukan ikhtiar kita selanjutnya.

Jelas kita tidak lagi boleh membiarkan jiwa kita terpengaruh oleh ramalan. Sudah sejak bertahun-tahun lamannya tahun baru kita selalu dihiasi oleh ramalan. Tetapi, kenyataanya, hidup kita selama ini tidak selalu seperti yang diramalkan orang. Kita juga tidak lagi boleh que sera sera saja. Karena cara berpikir seperti itu akan menjadikan ikhtiar kita pun alakadaranya saja. Kemana air mengalir, kesanalah kita menghanyutkan diri. Tidak menolak sekalipun air itu kadang menuju ke comberan.

Kita mending memulai tahun baru kedepan dengan cara pandang baru. Khususnya terhadap hidup kita sendiri. Karena tidak ada seorang pun dimuka bumi ini yang lebih berkepentingan dengan hidup kita selain diri kita sendiri. Maka sudah sepatutnya jika kitalah yang mengambil tanggungjawab paling besar terhadap hidup kita. Dan yakinlah, alam semesta akan selalu mendukung setiap perjuangan kita. Matahari. Bulan. Bintang. Langit. Bumi.  Dan segala sesuatunya ada, untuk menyokong kita.


Orkestra semesta itu kemudian melantunkan lagu penutupnya. Liriknya diambil dari firman Tuhan dalam surah 3 (ali Imran) Ayat 159; “Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.” Bukan tawakkal namanya jika belum berikhtiar, kita sudah mengharapkan hasilnya. Dan bukan tawakkal sebutannya jika masih memelihara mental yang mudah menyerah. Karena tawakkal artinya; melakukan ikhtiar hingga dibatas maksimal yang bisa kita lakukan. Lalu menyerahkan hasilnya kepada keputusan Ilahi. Sehingga melalui ikhtiar itu, kita bisa menjadi sebaik-baiknya pribadi. Dan melalui penyerahan diri kepada Ilahi itu, kita bisa menjadi sebaik-baiknya hamba. Dihadapan Sang Maha Pencipta. Untuk membuatNya bangga, karena telah menciptakan diri kita. Dengan begitu sempurna. 

Sesuai pesta, lantas mau apa?
Berfikir melalui perenungan diri, dari sebuah pesta hingar bingar, alangkah baiknya jika diri ini diperlakukan sebagaimana diri kita untuk menjadi lebih baik dari diri kita sekarang ini. 
Seusai pesta, lantas mau apa?

Inspirated from Mart In
Rewrited by Jihan
www.jijihans.com
 
Toggle Footer