Breaking News
Loading...

Jangan Mau Mati di Gunung

Jangan Mau MATI di Gunung

Sebuah peringatan yang sekaligus sebagai ancaman bagi para pecinta alam khususnya para pendaki gunung dimanapun. Saya tulis untuk kita semua, agar kita lebih menghargai nyawa kita daripada ego yang sering menjadi ancaman maut ketika berada dialam bebas. Ingat It is not the mountain we conquer, but ourselves. Bukanlah gunung yang kita taklukkan, akan tetapi yang kita taklukkan adalah diri kita sendiri, ego kita.


Beberapa bulan yang lalu, tepatnya awal bulan tahun 2014, kita dikejutkan atas Alief Hazen Rahmansyah (23 tahun) warga jalan Pahlawan, Gresik dan Dian Meitami (19 tahun) warga Karang menjangan, Surabaya. Keduanya adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (Stiesia) Surabaya.Mereka keduanya tewas diatas gunung antara gunung kembar, gunung welirang pada bulan Januari, dan ditemukan 27 Januari.

Kemudian terjadi pada saudara kita pada bulan Agustus 2014 kemarin, Ryan Hadi (Bonchel). Pendaki alumni IKIP Mataram angkatan 2008 ini terjatuh  ketika dalam perjalanan dari Danau Segara Anak menuju Pelawangan Timbanuh Minggu lalu sekitar Pukul 10.00 Waktu setempat (WITA). Jalur yang dilewati memang bukan jalur resmi yang sudah ditentukan oleh TNGR. Karena selain jalur yang sangat curam, jika salah pijak dan melangkah bisa langsung terperosok jatuh kejurang dengan dataran bebatuan.Lengkapnya KLIK. Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang kebanyakan terjadi karena Human Error atau kesalahan pada manusia/pendaki.

Hal ini tentu bisa dihindari jika para pendaki tersebut mengerti bagaimana memposisikan diri, bagaimana mengerti survival dialam bebas yang sangatlah ganas bak harimau yang kelaparan, sedang harimau tersebut menanti adanya santapan manis untuk lalapan. Bak goa yang gelap gulita diisi dengan bermacam makhluk astral buas. Dan terkadang mereka yang melakukan perjalanan tidak memahami bagaimana situasi dari gunung yang akan dituju, bagaimana situasi adat istiadat, kondisi flora faunanya, dan status gunung yang kita tuju.

Entah apa yang ada diotak mereka para pendaki pemula yang masih belum mempunyai pegangan ilmu, dan wawasan yang mencukupi untuk melakukan perjalanan yang sungguh sangat mengancam beberapa saat. Mendaki gunung bukanlah sebuah plesiran yang hanya bisa santai, bukan juga pantai yang dapat kita nikmati aliran air laut yang jinak beserta sentuhan-sentuhan pasir mungil bercampur batu. MEndaki gunung membutuhkan sebuah management, management perencanaan, perjalanan, dan juga evaluasi. Hal ini mesti harus deperinci seoptimal mungkin demi meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.

5M by jijihans.com
1. Mempelajari Lokasi Tujuan

Carilah terlebih dahulu informasi sebanyak-banyaknya mengenai lokasi yang akan menjadi destinasi perjalanan. Pelajari mulai dari adat istiadat, jenis hutan yang terdiri dari flora dan faunanya, letak geografisnya, dan segala yang ada hubungannya denga lokasi tersebut, seperti halnya mitos apa saja yang ada disana.

Informasi ini dapat kita peroleh dari kawan, warga setempat, dan mungkin dari internet. Pencarian informasi mengenai lokasi untuk saat ini saya rasa sangatlah muda, dikarenakan perkembangan informasi dan teknologi yang sudah sangat cepat ini.

2. Merencanakan Time Scedule Pendakian 

Setelah mempelajari lokasi tujuan yang akan dituju, langkah selanjutnya adalah dengan menganalisa time management. Hal ini diperlukan untuk alokasi waktu kita, management waktu mulai dari pemberangkatan dari rumah, menuju lokasi pendakian, lama pendakian menuju puncak, waktu turun, evaluasi kegiatan, turun gunung dan sampai dirumah masing-masing. Hal ini juga diperlukan utnuk management jumlah logistik yang akan dibawa saat pendakian.

3. Mempersiapkan Kondisi Fisik dan Mental Secara Prima

Dibutuhkan kondisi yang fit dan prima saat melaksanakan kegiatan mendaki ini, jikalau mungkin ada seseorang yang sedang sakit kemudian tetap memaksakan ikut mendaki, maka yang akan dikhawatirkan adalah akan membahayakan diri sendiri serta para pendaki yang lain yang ikut bersama pendakian.

Persiapkan kondisi fisik dengan berolahraga, seperti lari-lari kecil, bersepeda, berenang. Dan juga konsumsi makanan-makanan yang bergizi, serta istirahat yang cukup sebelum berangkat. Persiapan mental bisa dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan saat berangkat dan saat berpulang kerumah masing-masing.

4. Mempersiapkan Logistik Secukupnya

Membawa bahan logistik perlu diperhatikan dengan sedetil-detilnya. Jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit. Jika terlalu banyak, dikhawatirkan akan memberatkan carier yang berpengaruh pada kondisi tubuh yang akan menurun akibat terlalu beratnya beban, dan jika terlalu sedikit, maka dikhawatirkan akan tidak cukupnya jumlah asupan tubuh karena tidak adanya makanan.

Kalori setiap orang bervariasi tergantung jenis kelamin, lama perjalanan, aktivitas apa saja yang akan dilakukan (pendakian konvensional atau potong kompas), serta keadaan medan yang akan dihadapi. Secara umum kebutuhan kalori dalam mendaki gunung adalah 3.000 kilo kalori untuk laki-laki dan 2.600 kilo kalori untuk perempuan. Untuk pemenuhan kalori tersebut, dibutuhkan bahan makanan dengan komposisi Karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein sebanyak 10-15% dari total kebutuhan energi.

Total air yang dibawa, tergantung pada lama perjalanan dan lokasi yang akan dituju. Apabila di suatu daerah terdapat sumber air, maka bawa air secukpnya, tapi perlu diingat bahwa sumber air dilokasi apakah akan tetap layak minum atau tidak. Kalau saran saya tetap sediakan air sampai ke tujuan pendakian. Jika disana airnya layak minum, maka itu adalah rezeki. Hal ini tentunya akan mempermudah pergerakan dan menjadikan beban yang kita bawa lebih ringan. Namun jika di dalam perjalanan hampir tidak ditemukan mata air, maka air dibawa seluruhnya dari start perjalanan kita atau dari sumber mata air terakhir yang ditemukan.

Kebutuhan air dalam pendakian setiap harinya adalah air selama perjalanan 800 ml, air minum setelah makan 200 ml, air untuk memasak nasi 200 ml, air untuk memasak sayur (jika ada) 200 ml, air untuk kebutuhan camp 600 ml, dan air untuk back up sebanyak 800 ml. Total keseluruhan adalah kurang lebih 3 liter per hari. namun tidak bisa hal tersebut dijadikan patokan, semua tergantung masing-masing. Kalau saya pribadi jika hanya melakukan pendakian 2 hari saja, maka yang akan saya bawa hanya kurang lebih 4 liter.

5. Mempersiapkan Perlengkapan Perjalanan

Persiapan yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan akan perlengkapan perjalanan. Persiapan perlengkapan ini menyangkut dari carrier, tenda, nesting, jas hujan, dll. Untuk lebih lengkapnya silahkan KLIK disini , dan untuk penataan Carrier KLIK disini.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Intinya tulisan ini adalah mengingatkan kepada saya pribadi dan yang membaca ini. JANGAN MAU MATI DIGUNUNG, nyawa kita adalah hal yang paling penting dalam pendakian. Puncak hanyalah bonus, kembali pulang dan sampai dirumah adalah tujuan utama.

Salam Lestari, Keep Carrefuling.

 
Toggle Footer