Breaking News
Loading...

20 Tahun Berpisah, Tetap Setia


Kisah ini dikutip saya Tulis dari majelis ta'lim yg pernah saya ikuti dan amati. Sebuah kisah yg mencerminkan kesetiaan, cinta karna rabbnya. Dan cinta yg sangat luhur nan bisa kita jadikan teladan dimasa depan..

Image From FB 

Sepasang kekasih, sang suami adalah seorang pendakwah muda yg sedang memperjuangkan dakwah dan mengajak manusia kejalan takwa. Suatu ketika ia ingin berhijrah ke negeri seberang dengan tujuan yg sangat mulia yaitu ingin berhijrah (dikarenakan adalah sunnah nabi), ketika itu dia haruslah meninggalkan sang istri demi dakwah yg akan ia jalani nanti.. Ia berfikir dan mencari pilihan terbaik, memilih sang istri yang waktu itu sang istri dalam keadaan hamil muda ,ataulah dakwah ke jalan Allah..
Setelah berfikir sejenak ia putuskan hidupnya adalah hanya untuk Allah, dunia dan seluruh isinya termasuk istrinya adalah titipannya jua.

ijinlah seorang suami kepada istri:

"wahai istriku, suami mu ini mau berijin untuk berdakwah kenegeri seberang dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW untuk berhijrah, aku berdakwah InsyaAllah hanya 4 bulan saja, setelahnya nanti sebelum kelahiran anak kita, aku kembali".

karena sang istri adalah seseorang yang Shalehah maka tanpa pikir panjang sang istri pun berkata: 

"baiklah suamiku, jika itu adalah demi Allah dan karena panggilan dakwah maka berangkatlah suamiku".

Esok harinya sang suamipun berkemas akan berangkat, sambil memberikan sekantong dirham dan berkata: 


"wahai istriku, ini dirham untuk keprluanmu nanti jika aku tak ada.."

Diciumnya punggung tangan sang suami, dan dibalas kecupan dikening seraya mengucap salam, berangkatlah sang suami untuk berdakwah.

Berjalan hari demi hari, sang istri ikhlas menunggu sang suami dan menjaga kondisi sang cakon bayi, dia mengisi hari2nya dengan membaca bacaan ayat suci Al Qur'an, dan beribadah dengan sungguh2 berharap sang suami dalam keadaan baik2. Dua bulan berlalu persediaan dirhampun menipis dan mulai habis, sang istripun tak patah arang, dia berusaha mencari penghidupan dengan bekerja kesana kemari demi bayi yg ada didalam kandungannya. 


Sampai waktunyapun tiba, yakni 4 bulan yg telah dikatakan sang suami akan pulang, dia menunggu dan berbenah diri, membereskan rumah hingga rapi dan bersih, berharap sang suami pulang dengan senang.

Setelah ditunggunya berhari-hari sang suamipun tak kunjung pulang, dia pun tetap berfikiran husnudzon terhadap sang suami yg berada dalam perantauan, bahwa sang suami berjuang dijalan Allah.
Ditunggunya berbulan2 hingga sang buah hatipun lahir dengan tidak disertai sang ayah.

Hingga sang anak berumur setahun, dua tahun, tiga tahun, dididiknya sang anak dengan didikan terbaik dan agamis, hingga jadilah Hafidz dengan usia belasan sang anak sudah mampu bedakwah meniru bakat sang ayah,Namun sang istri tetaplah berdoa dan menunggu sang suami yg belasan tahun tah kunjung pulang dan tetap bebaik sangka terhadap sang suami.

Kemudian tumbuhlah sang anak menjadi Mubaliq muda yang pandai diusianya yg terbilang muda, sang anak menguasi berbagai ilmu agama, berkat bimbingan sang ibu yg sangatlah sabar mendidik sang buah hati hingga terlahir menjadi Mubaliq. Sesekali sang anak pernah bertnnya, dimana ayah, sang ibipun menjawab dengan bijak, bahwa sang ayah pergi untuk berdakwah anakku, esok lusa ayahmu akan pulang.Sang anak yg juga sholehpun juga menunggu2 bagaimana wajah sang ayah dan kebaikannya sebagaimana yg pernah sang ibu ceriterakan.

Di dua puluh tahun lebihpun sang Ayah kembali pulang, dengan perubahan usia dan penampilan yg tak muda lagi seperti dulu, sang suamipun tiba2 langsung masuk kerumahnya, pas ketika itu sang istri tidak ada dirumah.

Sang suamipun mencari sang istri, dengan memanggil lirih (ingin melepas kerinduan), tiba2 sang anakpun plang kerumah (dari Masjid), keduanya pun saling menatap dan bertanya2. Sang anakpun bertanya; wahai orang tua siapakah engkau? memasuki rumah tanpa seidzin yg punya. Sang ayahpun bertanya pula, wahai anak muda siapakah engkau, memasuki rumahku tanpa seidzinku, ini rumahku. Aku disini tinggal bersama istriku dan anakku, yang kira2 seumuran dengan engkau, aku sepulang dari negeri seberang setelah bertahun2  aku berdakwah.

Seraya sang anakpun kaget dan menahan haru lalu memeluk sang ayah dengan erat, aku anakmu wahai ayah, aku sangat merindukanmu wahai ayah, begitu juga ibu sang selalu mendoakan mu jauh disana.

Sang istripun pulang dan menangis haru sambil memeluk sang suami. Subhanallah

Cinta karena Allah dan Rasulnya, membuahkan begitu banyak hikmah yang terpendam. Mungkin kita tidak bisa menjadi seoarang suami yg begitu mencintai Allah, ia tinggalkan istrinya dan ia titipkan pd Allah SWT, dan kita juga mungkin tak mampu meniru sang istri, walau jauh tp hatinya selalu dekat. 
Itulah keindahan cinta yg hakiki dan penuh harmoni.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer