Breaking News
Loading...

kontroversi Berdagang Di Gunung?

Setujukah Berdagang Di Gunung? - Gunung adalah sebuah dataran tinggi yang  menonjol vertikal keatas dengan memiliki ketinggian tertentu yang diukur mulai dari dibawah permukaan laut. definisi kasar dari sebuah gunung yang sengaja saya definisikan secara spontan tanpa adanya bahasa ilmiah dan bahasa yang mungkin membuat bingung.

Menurut survei dan pengamatan saya secara kecil-kecilan , yakni sekala lingkungan tempat saya berada. Banyak pemuda-pemudi, simpatisan, ataupun pecinta alam yang sebelumnya hanya bergerak dibidang lingkungan dan alam non gunung, kini mulai melirik sebuah kegitan outdoor baru yang dulu sama sekali tidak diminati dan mungkin bilapun ada, banyak orang yang masih memandang sebelah mata mengenai kegiatan olahraga dan hobi ini. Bahkan ada dulu yang mengatakan bahwa naik gunung adalah olahraga orang yang miskin, urban, kaum marginal, dll. Padahal kita tahu, untuk mendaki sebuah gunung, banyak persiapan-persiapan yang harus diteliti, terlebih biaya untuk naik gunung juga tidak murah bukan?

Foto Nyata / Perdagangan Sudah Mencapai Cemoro Kandang Semeru
Saya sendiri untuk membeli peralatan hiking, rela tidak jajan selama 3 bulanan. Demi membeli perlengkapan mendaki seperti carrier, matrass, sleeping bag, sandal, sepatu, kompor, dan perlengkapan-perlengkapan lainnya. Belum lagi bekal yang harus kita makan untuk beberapa hari kedepan, tentu sudah memakan budget yang lumayan banyak menurut saya.

Yang akan saya bahas kali ini adalah sebuah trending topik tentang berdagang diatas gunung, baik itu Gunung di Jawa Timur, atau Gunung yang lainnya, atau istilahnya kita juga menjadi pembeli aktif yang secara langsung mendukung adanya kegiatan itu (Kegiatan jual beli) diatas gunung. Kali ini saya akan membahas sebuah ulasan mengenai hal itu, baik dari segi manfaat, ataupun yang sebaliknya. Karena mengenai masalah ini, masih banyak yang pro dan kontra.
Berikut Manfaat-manfaatnya :
  1. Meringankan beban bawaan.
    Yap, memang benar sekali. Ini merupakan salah satu alasan terkuat jika ada rombongan yang ingin mendaki ke gunung X. Banyak para pendaki yang hanya membawa cadangan makanan yang porsinya hanya sekedar saja. Karena kenapa? tinggal membawa uang perutpun kenyang. Hehehhe. Tak perlu membawa logistik yang berlebih, tinggal bawa uang semua sudah jadi. Bahkan menurut saya, tidak usah membawa tendapun jadi, karena kita bisa menginap ditendanya Warung, sambil menikmati kehangatan tenda serta teh hangatnya.
  2. Praktis dan simple.
    Gimana nggak simple?, kita hanya banda badan saja, sama beberapa potong baju dan sleeping bag saja. Jadi sama sekali nggak berat bro.
  3. Menambah semangat jika sedang down dibawah pas mau naik.
    Lha ini yang sering saya lakukan kepada orang awam yang barusan naik gunung terus ngos-ngosan. Kita biasanya hanya memberikan semangat positif seperti kata "Tinggal sedikit lagi, diatas ada nasi pecel dan teh hangat yang sedang menunggu. Semangat-semangat" .Pasti bagi yang awam akan menggebu-gebu penasaran ingin segera sampai. Apalagi kalau bukan PHP, malah sangat semangat.
  4. Penambah Karbohidrat yang instan.
    Ini hampir sama dengan yang nomer 2 sebenarnnya, hanya saja yang berbeda adalah masalah nasi. Menanak nasi dengan jumlah yang lumayan banyak, tentu akan membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi nasi yang matang, pulen, dan enak. Hal ini akan menjadi praktis jika hanya dengan membayar 8000 rupiah. Tentu saya akan memilih yang instan dengan membayar uang sekian daripada harus memasak dan menunggu lama.
  5. Mensejahterakan warga sekitar gunung.
    Sebagai orang sosial, tentu kita tidak bisa hidup sendiri bukan, begitu juga warga sekitar lereng gunung, Dengan mereka berjualan, maka secara langsung akan meningkatkan ekonomi mereka, ya dengan membeli produk mereka tentunya. Kini mulai banyak para penduduk sekitar gunung berduyun-duyun menaiki gunung, bukan untuk mencari air atau kayu untuk dijadikan kayu bakar, akan tetapi mendaki gunung untuk berjualan makanan dan minuman.
Begitu banyak manfaat yang didapat bila kita memanfaatkan sesuatu hal yang sudah ada didepan mata bukan?, namun dari semua manfaat yang ada diatas, apakah tidak ada kerugian yang didapat dalam perkara ini?

"Tentu ada. Namun sebenarnya permasalahan masalah kerugian ini dapat diantisipasi dan dihindari. Sehingga pastinya tidak akan menimbulkan apa itu yang dinamakan kerugian, apalagi jika kerugian itu menyangkut persoalan lingkungan. Berikut kerugian-kerugiannya menurut saya dan teman-teman:
Sampah Di Surganya Mahameru / Kalo begini bukan lagi Surga kan kelihatannya?
Beragam sampah di Alam
  1. SAMPAH, itulah persoalan yang utama menurut saya.
    Bila kita perhatikan disekitaran warung yang ada di Puncak Gunung yang sudah terkenal adanya, pasti kita akan menjumpai banyak sampah yang bertebaran, mulai dari sampah plastik, kertas, dan jenis sampah yang lainnya. Semua itu seperti puncak gunung, meninggi dan tidak terurus. Apakah itu dibawa oleh pendaki?, iya sebagian kecil. Namun yang saya saksikan secara nyata adalah, sampah tersebut merupakan sampah rumah tangga, yakni sampah yang dihasilakan oleh warung-warung tersebut.

    It's the real, dan memang terjadi. Dua kali saya kesana dengan rentang waktu yang tidak begitu lama, sudah bisa membuktikan bahwa gundukan sampah yang dulunya tidak begitu tinggi, kali kedua saya kesana, gundukan itu lebih tinggi dan lebih beragam macamnya. Bisa dibuktikan ketika kalian pergi ke Lawu.
  2. Menghilangkan inti kenikmatan alam yang sesungguhnya. Bagaimana tidak, menurut saya ada benarnya juga pendapat diatas. Jika semua yang kita butuhkan serba instan, maka petualangan kita digunung bak hanya seperti piknik biasa yanga mana untuk mendapatkan suatu makanan bisa kita dapatkan dengan hanya merogoh kantong.
  3. Petualangan seperti halnya piknik saja.
    Contoh kasus: Sewaktu kita mendaki ke Gunung yang ada diperbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, hampir semua pendaki akan mengetahui warung terkenal dipuncak gunung tersebut, sebagian besar pendaki pasti sudah mengetahuinya bukan?. Beberapa dari kita pasti akan menemui pendaki yang tidak membawa bekal apa-apa, bahkan tas yang dibawapun tergolong kecil. Lha disinilah letak persoalan yang mungkin ada yang mengatakan hal demikian. Karena disana, kita bisa tidur hangat beratapkan terpal tebal yang jikalau hujan tidak ada bocor. Makanan pun selalu sedia, cemilan juga ada.
  4. Takutnya hanya PHP.
    Kasus nyata ini ada ketika pendakian sebuah gunung. Saat itu ada pendaki yang hanya membawa bekal seadanya, air juga pas-pasan. Mereka naik ke arah puncak dan bertemu dengan kami menanyakan mengenai Warung.
    "Warungnya Buka?"
    "Buka, tapi mau tutup karena mau turun"
    "Dyeng. Tutup ya mas?"
    Kami hanya menyarankan untuk kesana saja untuk lebih pastinya. Yang pasti mereka akan nyesel dan merasa di PHP sama tuh warung. heheheh

    Permasalahan diatas pasti ada yang mengalaminya, seperti halnya ketika kita mengharapkan air di alam. Dan ternyata sumber air yang dulunya jernih, saat kita kesana ternyata berlumpur. Bisa mati kita digunung bila keadaannya seperti itu.
  5. Kenikmatan memasak bersama, dan makan bersama tidak begitu nikmat.
    Ini juga penting, kenapa?, ketika kita memasak, kemudian dinikmati bersama-sama diatas daun pisang atau jati bersama-sama sahabat, pasti akan terasa indah bukan?
    begitu nikmatnya, walaupun makanan yang kita makan mungkin hanya sebatas tahu, tempe dan nasi, namun nikmatnya bak makan steak atau makanan resto.
Itulah paparan singkat saya mengenai pandangan dan opini pribadi saya mengenai kontroversi membeli dan menjual makanan di gunung. Semua pastinya ada hikmah yang dapat diambil bilamana kita menyikapinya dengan positif dan penuh hikmah.

Semoga bermanfaat tulisan yang tidak berharga ini.

Salam lestari untuk alam kita ini.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer