Breaking News
Loading...

Wisata Sejarah Trowulan Candi-Candi eps 2

Beberapa kesempatan yang lalu Saya sudah membahas tentang wisata sejarah Trowulan yang part pertama. silahkan klik disini bagi yang belum membacanya. Trowulan yang dikenal sebagai bekas daerah ibukota Majapahit ini menawarkan sebuah wisata alam dan sekaligus budaya ini menyuguhkan beberapa artefak peninggalan seperti halnya candi-candi, prasasti, benda-benda kuno dalam bentuk apapun, patung-patung, dan masih banyak lagi apa yang berada disana.

Menyusuri tempat bersejarah ini tentu akan lebih enak bila dilakukan eksplorasi yang mendalam mengenai lokasi-lokasi ini, agar nilai historis yang kita dapat akan lebih banyak dan bermanfaat bagi kita yang mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah itu. Rata-rata wisata bersejarah di wilayah Trowulan tidak dikenakan biaya masuk, namuan hanya dikenakan biaya parkir saja yang harganya tentu akan lebih murah dari tarif parkir di kota. :)

Perjalanan ke Candi-candi ini nanti akan mudah, karena disana banyak petunjuk-petunjuk perjalanan yang nantinya akan memudahkan para wisatawan yang ingin berkunjung menyelami sejarah kerajaan Majapahit yang pernah jaya berabad-abad dinegeri ini,khususnya ditanah Jawa.

Candi Brawu

Salah satu candi yang paling Saya suka karena kekokohannya sampai saat ini. Candi yang menjulang tinggi di Dukuh Jambu Mente Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan Mojokerto ini mempunyai ukuran panjang sekitar 23 M, panjangnya 18 M, dan tinggi mencapai 20 an meter. Bangunan candi Brawu diperkirakan oleh para arkeolog didirikan sejak abad ke 15 Masehi, namun diantara arkeolog masih banyak perbedaan-perbedaan pendapat mengenai permasalahan kapan tepatnya didirikan.


Menurut informasi yang didapatkan dari sebuah prasasti karya dari Mpu Sendok, candi Brawu adalah suatu tempat bekas dari kremasi, atau sebuah lokasi untuk pembakaran mayat-mayat para raja ketika meninggal. Namun, sampai saat ini, para arkeolog belum bisa membuktikan informasi yang ada diprasati itu, karena tidak diketemukan sebuah peci abu mayat disekitaran candi Brawu. Hal ini setelah dilakukannya pemugaran candi Brawu sekitaran tahun 1990.

Candi Gentong

Situs Candi Gentong terletak di Desa Trowulan kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Situs ini terdiri dari  bangunan yang ditumpuk-tumpuk dari batu bata berukuran besar. Kedua candi dibangun dengan arah berjajar dengan arah utara dan selatan yang berjarak kurang lebih 25 meter dan berorientasi ke arah barat. abngunan candi yang terletak disebelah selatan disebut Candi Gentong I, dan yang terletak disebelah selatan disebut dengan Candi Gentong II. Batasan-batasan candi Gentong belum diketahui dengan pasti, namun berdasrkan banyaknya sisa benda cagar budaya yang ditemukan diarea sekitaran candi. Diperkirakan candi ini merupakan kompleks percandian yang sangatlah luas.

Candi Gentong I
Informasi awal mengenai Candi Gentong ditulis oleh Verbeek dalam TBG XXXIII tahun 1889. Dalam bukunya, Ia menyebutkan bahwa tahun tersebut bangunan Candi Gentong masih terlihat bentuknya. Namun Verbeek tidak menjelaskan lebih rinci lagi mengenai bangunan itu bagaimana. Berbeda dengan keterangan Verbeek, Knebel dalam ROC tahun 1907 menyebutkan bahwa bangunan candi Gentong hanya berupa gundukan tanah saja. Krom dalam bukunya Inleiding tot de Hindoe Javaneeschhe Kunts pada tahun 1923 menyebutkan bahwa Candi Gentong terletak tidak jauh dari Candi Brawu.

Candi Gentong II
Usaha pelesatarian terhadap Candi Gentong telah dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur selama 6 tahun, mulai anggaran 1995-2000 dan masih terus berjalan pada tahun anggaran 2001. Hasil yang didapat yaitu menampakkan struktur Candi Gentong I dan Candi Gentong II serta usaha-usaha pelestariannya.

Candi Gentong I dan II pada saat ditemukan sudah dalam keadaan runtuh dan hanya terlihat bagian kaki candinya saja yang masih menunjukkan struktur aslinya. Candi Gentong I yang masih relatif terlihat denah candinya secara utuh, menunjukkan bentuk bujur sangkar dengan penampil pada sisi barat. Dilihat dari denahnya. Candi Gentong I merupakan suatu bangunan yang memiliki sebuah ruangan pusat. Lain halnya dengan Candi Gentong II yang menunjukkan bentuk denah bangunan dipusat yang dikelilingi oelh bangunan-bangunan kecil. Dilihat dari ukurannya, Candi Gentong I memiliki ukuran yang lebih besar dari Candi Gentong II. Dari beberapa penelitian yang dilakukan selama ini menunjukkan bahwa Candi Gentong mempunyai latar belakang keagamaan Budah. Hal ini dibuktikan dari sejumlah temuan berupa stupika bertulis dan temuan lain yang berciri khas Budha pada kedua candi itu.

Candi Bajang Ratu

Candi Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sekitar 3,5 km dari Candi Wringinlawang dan sekitar 600 m dari Candi Tikus. Candi ini masih menyimpan banyak hal yang belum diketahui secara pasti, baik mengenai tahun pembuatannya, raja yang memerintahkan pembangunannya, fungsinya, maupun segi-segi lainnya.

Nama Bajangratu pertama kali disebut dalam Oudheidkunding Verslag (OV) tahun 1915. Oelh arkeolog Sri Soeyatmi Satari menduga-duga nama Bajangratu ada hubungannya dengan Raja Jayanegara dari Majapahit, karena kata 'bajang' berarti kerdil. Menurut Kitab Pararaton dan cerita rakyat, Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih kecil, sehingga gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya.


Mengenai fungsi candi, diperkirakan bahwa Candi Bajangratu didirikan untuk menghormati Jayanegara. Dasar perkiraan ini adalah adanya relief Sri Tanjung di bagian kaki gapura yang menggambarkan cerita peruwatan. Relief yang memuat cerita peruwatan ditemukan juga, antara lain, di Candi Surawana. Candi Surawana diduga dibangun sehubungan dengan wafatnya Bhre Wengker (akhir abad ke-7).

Dalam Kitab Pararaton dijelaskan bahwa Jayanegara wafat tahun 1328 ('sira ta dhinar meng Kapopongan, bhiseka ring csrenggapura pratista ring Antarawulan'). Disebutkan juga bahwa Raja Jayanegara, yang kembali ke alam Wisnu (wafat) pada tahun 1328, dibuatkan tempat sucinya di dalam kedaton, dibuatkan arcanya dalam bentuk Wisnu di Shila Petak dan Bubat, serta dibuatkan arcanya dalam bentuk Amoghasidhi di Sukalila. Menurut Krom, Csrenggapura dalam Pararaton sama dengan Antarasasi (Antarawulan) dalam Negarakertagama, sehingga dapat disimpulkan bahwa 'dharma' (tempat suci) Raja Jayanegara berada di Kapopongan alias Csrenggapura alias Crirangga Pura alias Antarawulan, yang kini disebut Trowulan. Arca perwujudan sang raja dalam bentuk Wisnu juga terdapat di Bubat (Trowulan). Hanya lokasi Shila Petak (Selapethak) yang belum diketahui.

Di samping pendapat di atas, ada pendapat lain mengenai fungsi Candi Bajangratu. Mengingat bentuknya yang merupakan gapura paduraksa atau gapura beratap dengan tangga naik dan turun, Bajangratu diduga merupakan salah satu pintu gerbang Keraton Majapahit. Perkiraan ini didukung oleh letaknya yang tidak jauh dari lokasi bekas istana Majapahit.
Bajangratu diperkirakan didirikan antara abad ke-13 dan ke-14, mengingat:
  1. Prakiraan fungsinya sebagai candi peruwatan Prabu Jayanegara yang wafat tahun 1328 M 2) Bentuk gapura yang mirip dengan candi berangka tahun di Panataran Blitar
  2. Relief penghias bingkai pintu yang mirip dengan relief Ramayana di Candi Panataran
  3. Bentuk relief naga yang menunjukkan pengaruh Dinasti Yuan. J.L.A. Brandes memperkirakan bahwa Bajangratu dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan Candi Jago di Tumpang, Malang, ditilik dari adanya relief singa yang mengapit sisi kiri dan kanan kepala Kala, yang juga terdapat di Candi Jago. Candi Jago sendiri diperkirakan dibangun pada abad ke-13.
Candi Bajangratu menempati area yang lumayan luas. Seluruh bangunan candi dibuat dari batu bata merah lama yang berukuran besar, kecuali anak tangga dan bagian dari dalam atapnya. Sehubungan dengan bentuknya yang merupakan gapura beratap, Candi Bajangratu menghadap ke dua arah, yaitu timur-barat. Ketinggian candi sampai pada puncak atap adalah 16,1 m dan panjangnya 6,74 m. Gapura Bajangratu mempunyai sayap di sisi kanan dan kiri. Pada masing-masing sisi yang mengapit anak tangga terdapat hiasan singa dan binatang bertelinga panjang. Pada dinding kaki candi, mengapit tangga, terdapat relief Sri Tanjung, sedangkan di kiri dan kanan dinding bagian depan, mengapit pintu, terdapat relief Ramayana. Pintu candi dihiasi dengan relief kepala kala yang terletak tepat di atas ambangnya . Di kaki ambang pintu masih terlihat lubang bekas tempat menancapkan kusen. Mungkin dahulu pintu tersebut dilengkapi dengan daun pintu.


Bagian dalam candi membentuk lorong yang membujur dari barat ke timur. Anak tangga dan lantai lorong terbuat dari batu. Bagian dalam atap candi juga terbuat dari balok batu yang disusun membujur utara-selatan, membentuk ruang yang menyempit di bagian atas.
Atap candi berbentuk meru (gunung), mirip limas bersusun, dengan puncak persegi. Setiap lapisan dihiasi dengan ukiran dengan pola limas terbalik dan pola tanaman. Pada bagian tengah lapis ke-3 terdapat relief matahari, yang konon merupakan simbol kerajaan Majapahit. Walaupun candi ini menghadap timur-barat, namun bentuk dan hiasan di sisi utara dan selatan dibuat mirip dengan kedua sisi lainnya. Di sisi utara dan selatan dibuat relung yang menyerupai bentuk pintu. Di bagian atas tubuh candi terdapat ukiran kepala garuda dan matahari diapit naga.

Candi Bajangratu telah mengalami pemugaran pada zaman Belanda, namun tidak didapatkan data mengenai kapan tepatnya pemugaran tersebut dilaksanakan. Perbaikan yang telah dilakukan mencakup penguatan pada bagian sudut dengan cara mengisikan adonan pengeras ke dalam nat-nat yang renggang dan mengganti balok-balok kayu dengan semen cor. Beberapa batu yang hilang dari susunan anak tangga anak tangga juga sudah diganti .  .(Sumber).

Candi Tikus

Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan Candi Bajangratu yang terletak di sebelah kiri jalan. Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 m dari Candi Bajangratu.

Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985. Nama 'Tikus' hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus.



Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad 13 sampai 14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.

Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja, namun sebagian pakar ada yang berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Bangunan Candi Tikus menyerupai sebuah petirtaan atau pemandian, yaitu sebuah kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya. Hampir seluruh bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m ini terbuat dari batu bata merah. Yang menarik, adalah letaknya yang lebih rendah sekitar 3,5 m dari permukaan tanah sekitarnya. Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 cm yang mengelilingi bangunan. Di sisi dalam, turun sekitar 1 m, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk ke candi terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 m menuju ke dasar kolam.

Di kiri dan kanan kaki tangga terdapat kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 m x 2 m dengan kedalaman 1,5 m. Pada dinding luar masing-masing kolam berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit. Tepat menghadap ke anak tangga, agak masuk ke sisi selatan, terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Di atas bangunan ini terdapat sebuah 'menara' setinggi sekitar 2 m dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar. Menara yang terletak di tengah bangunan ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil. Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran berbentuk bunga teratai dan makara.

Hal lain yang menarik ialah adanya dua jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda yang digunakan dalam pembangunan candi ini. Kaki candi terdiri atas susunan bata merah berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah yang berukuran lebih kecil. Selain kaki bangunan, pancuran air yang terdapat di candi inipun ada dua jenis, yang terbuat dari bata dan yang terbuat dari batu andesit.

Perbedaan bahan bangunan yang digunakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus dibangun melalui tahap. Dalam pembangunan kaki candi tahap pertama digunakan batu bata merah berukuran besar, sedangkan dalam tahap kedua digunakan bata merah berukuran lebih kecil. Dengan kata lain, bata merah yang berukuran lebih besar usianya lebih tua dibandingkan dengan usia yang lebih kecil. Pancuran air yang terbuat dari bata merah diperkirakan dibuat dalam tahap pertama, karena bentuknya yang masih kaku. Pancuran dari batu andesit yang lebih halus pahatannya diperkirakan dibuat dalam tahap kedua. Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kedua tahap pembangunan tersebut dilaksanakan. (Sumber).

Kolam Segaran

Kolam Segaran terletak di Dukuh Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Dari perempatan jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan simpang ke arah selatan. Letak kolam di sisi kiri jalan simpang tersebut, sekitar 500 meter dari jalan raya. Letak lokasi ini lumayan dekat jika dari jalan utama, jadi tidak usah khawatir ketika mencari lokasi Kolam Segaran ini.

Kolam Segaran ditemukan pada tahun 1926, dalam keadaan teruruk tanah. Pada tahun 1966 kolam ini mengalami pemugaran sekedarnya. Baru pada tahun 1974 dimulailah pelaksanaan pemugaran yang lebih terencana dan menyeluruh, yang memakan waktu sekitar sepuluh tahun. Fungsi Kolam Segaran belum diketahui secara pasti, tetapi menurut masyarakat sekitar, kolam tersebut digunakan keluarga Kerajaan Majapahit untuk berekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Kolam ini merupakan satu-satunya bangunan kolam kuno terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Kolam yang luas keseluruhannya kurang lebih 6,5 hektar, membujur ke arah utara-selatan sepanjang 375 m dengan lebar 175 m. Sekeliling tepi kolam dilapisi dinding setebal 1,60 m dengan kedalaman 2,88 m.


Di pintu masuk yang terletak di sebelah barat, terdapat emperan yang menjorok ke tengah kolam. Di sisi dalam emperan terdapat undakan untuk turun ke kolam. Seluruh dinding dan emperan terbuat dari susunan batu bata tanpa bahan perekat. Konon untuk merekatkannya, batu bata yang berdampingan digosokkan satu sama lain. Di sisi tenggara terdapat saluran yang merupakan jalan masuk air ke dalam kolam, sedangkan di sisi barat laut terdapat saluran jalan keluar air. Air yang keluar mengalir ke Balongdawa (empang panjang) yang letaknya di barat laut dan Balongbunder (empang bundar) di selatan. Menilik adanya saluran masuk dan keluar air, diduga Kolam Segaran dahulunya juga berfungsi sebagai waduk dan penampung air. Para ahli arkeolog memperkirakan bahwa kolam ini adalah yang disebut sebagai telaga dalam Kitab Negarakertagama. (Sumber).

Museum Majapahit


Perjalanan yang Saya laksanakan akhirnya berakhir disebuah tempat pusat dari semua koleksi arkelog kebudayaan yang ada di Trowulan Mojokerto ini. Inilah Museum Majapahit, semua temuan dari jaman kerajaan Majapahit ada didalamnya.


Pada tanggal 24 April 1924, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro, salah seorang Bupati Mojokerto bekerja sama dengan Ir. Henri Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda mendirikan Oudheidkundige Vereeniging Majapahit (OVM) yaitu suatu perkumpulan yang bertujuan untuk meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit. OVM menempati sebuah rumah di Situs Trowulan yang terletak di jalan raya jurusan Mojokerto-Jombang Km 13 untuk menyimpan artefak-artefak yang diperoleh baik melalui penggalian arkeologis, survei, maupun penemuan secara tak sengaja. Mengingat banyaknya artefak yang layak untuk dipamerkan maka direncanakan untuk membangun sebuah museum yang terealisasi pada tahun 1926 dan dikenal dengan nama Museum Trowulan.





Pada tahun 1942, museum ditutup untuk umum karena Henri Maclaine Pont ditawan oleh Jepang. Sejak itu museum berpindah-pindah tangan dan yang terakhir dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur. Tugas kantor tersebut tidak hanya melaksanakan perlindungan terhadap benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit saja, tetapi seluruh peninggalan kuno di Jawa Timur. Oleh karena itu koleksinya semakin bertambah banyak. Untuk mengatasi hal tersebut museum dipindahkan ke tempat yang lebih luas, berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat semula namun masih di Situs Trowulan. Museum baru tersebut sesuai dengan struktur organisasinya disebut sebagai Balai Penyelamatan Arca, namun masyarakat umum tetap mengenalnya sebagai Museum Trowulan.

Koleksi / Sumber Kemdikbud
Pada tahun 1999 koleksi prasasti peninggalan R.A.A. Kromodjojo Adinegoro dipindahkan dari Gedung Arca Mojokerto ke Museum Trowulan, sehingga koleksi Museum Trowulan semakin lengkap. Berdasarkan fungsinya, Museum Trowulan kemudian diberi nama sebagai Balai Penyelamatan Arca BP3 Jatim. Mengingat kebutuhan akan informasi yang semakin lama semakin meningkat dari masyarakat tentang Majapahit, maka kini nama Balai Penyelamatan Arca BP3 Jatim pun diubah menjadi Pusat Informasi Majapahit. Walaupun terjadi perubahan, namun pada prinsipnya hal tersebut tidak mengubah fungsinya secara signifikan, yaitu sebagai sebuah Museum dan Balai Penyelamatan Balai Cagar Budaya di Jawa Timur.

Untuk menampung koleksi benda cagar budaya yang setiap tahun terus bertambah dan untuk meningkatkan pelayanan sajian kepada masyarakat, maka BP3 Jatim terus melakukan pembenahan terhadap Museum Trowulan.

KOLEKSI MUSEUM

Sesuai dengan sejarahnya, koleksi Pusat Informasi Majapahit didominasi oleh benda cagar budaya peninggalan Majapahit. Melalui peninggalan-peninggalan tersebut beberapa aspek budaya Majapahit dapat dikaji lebih lanjut, seperti di bidang pertanian, irigasi, arsitektur, perdagangan, perindustrian, agama, dan kesenian. Keseluruhan koleksi tersebut ditata di gedung, pendapa maupun halaman museum.
Berdasarkan bahannya koleksi Museum Trowulan yang dipamerkan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok.
  1. Koleksi Tanah Liat (Terakota), Mencakup Koleksi Terakota Manusia, Alat-alat Produksi (kompor tungku, cobek, bakul, dll), Alat-alat Rumah Tangga, Arsitektur.
  2. Koleksi Keramik, Koleksi keramik yang dimiliki oleh Pusat Informasi Majapahit berasal dari beberapa negara asing seperti China, Thailand, dan Vietnam. Keramik-keramik tersebut pun memiliki berbagai bentuk dan fungsi, seperti guci, teko, piring, mangkuk, sendok, dan vas bunga.
  3. Koleksi Logam, Koleksi benda cagar budaya berbahan logam yang dimiliki Pusat Informasi Majapahit dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok, seperti koleksi mata uang kuno, koleksi alat-alat uparaca seperti bokor, pedupaan, lampu, cermin, guci dan genta, dan koleksi alat musik.
  4.  Koleksi Batu, Koleksi benda cagar budaya yang berbahan batu berdasarkan jenisnya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut: Koleksi Miniatur dan Komponen Candi, Koleksi Arca, Koleksi Relief, Koleksi Prasasti.
Sementara itu, koleksi benda cagar budaya yang berbahan batu yang dimiliki oleh Pusat Informasi Majapahit, juga terdapat alat-alat dan fosil binatang dari masa prasejarah.

Sumber: Buku Panduan 'Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan'. Yang ditulis Oleh I Made Kusumajaya, Aris Soviyani, dan Wicaksono Dwi Nugroho.

Segala informasi yang telah Saya jabarkan diatas adalah saya peroleh dari sumber-sumber yang terpecaya, dan bukan sama sekali karangan Saya. Heheh. Karena memang saya tidak mempunyai keahlian dalam hal ilmu arkeologi dan sebagianya. Hanya saja Saya sangat menyukai banguanan-bangunan purbakala yang ada dan Saya temui. Di Museum Majapahit dilarang memotret ya, kalau pengen motret ya sembunyi-sembunyi. Hehehehe


Sejarah mengajarkan kepada Kita pada masa lalu, bahwa Bangsa Kita pernah besar dan jaya dimasa lalu, ketika kini bangsa kita terpuruk itu adalah salah Kita sema, dan saatnya membangun kembali bangsa yang sudah mulai runtuh ini.


Alamat :
PUSAT INFORMASI MAJAPAHIT
Jalan raya Pendopo Agung
Trowulan-Mojokerto 61362
Jawa Timur

telp. 0321-494313

Sekian ya, silahkan mencoba berwisata bersejarah ini.

salam


www.jijihans.com



0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer