Breaking News
Loading...

Adaptasi Manusia Pada Ketinggian

Adaptasi Manusia Pada Ketinggian - Menyambung dari article sebelumnya mengenai penurunan kadar oksigen dan suhu di pegunungan atau gunung, kali ini sedikit membahas mengenai adaptasi manusia terhadap ketinggian. Dari article sebelumnya mengenai kandungan oksigen diketinggian (klik)Ketika berada diketinggian tertentu, maka penurunan oksigen juga akan mengikuti penurunan itu, sampai pada titik ketinggian puncak yang persediaan oksigennya paling tipis, yakni diketinggian melebihi ketinggian 10 ribu mdpl.

Ada beberapa daerah pegunungan didunia ini yang berpenghuni dan mempunyai kehidupan sampai saat ini. Dimana para penghuninya mempunyai cara tersendiri untuk beradaptasi terhadap ketinggian yang dihadapinya, yakni dengan cara menggunakan obat-obatan tradisional seperti halnya mencampur dengan alkohol atau tanaman coca (tanaman yang menghasilkan kokain) seperti halnya digunakan oleh kebanyakan suku Mongoloid didataran Tibet dan Andes.



Manusia yang tinggal diatas ketinggian hanyalah segelintir bagian yang kecil dari populasi dunia, yakni hanya sekitar 1 % saja dari jumlah keseluruhan (25 juta orang). Didunia, pegunungan yang terkenal berpenghuni diantaranya adalah:
  1. Pegunungan Rocky, terletak di Amerika Serikat dan Kanada. Terkenal dengan puncak saljunya yang lumayan dingin.
  2. Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Puncak dari Pegunungan Andes juga diselimuti es dan salju.
  3. Dataran Tinggi Tibet dan China Selatan, terletak di Benua Asia.
  4. Pegunungan Himalaya
  5. Pegunungan Atlas Maroko
  6. Dataran Tinggi Ethiopia
  7. Dataran Tinggi Jayawijaya Indonesia
  8. Pegunungan Sierra Madre Meksiko
  9. Pegunungan Tinggi Kilimanjaro Afrika Timur
  10. Dataran Tinggi Basuto Di Afrika Selatan
  11. Pegunungan Pyrenes Diantara Perancis dan Spanyol
  12. Pegunungan Tien Shan Rusia
  13. Jajaran pegunungan Turki Timur, Persia, Afganistan, dan Pakistan
Pegunungan Andes, Amerika Serikat
Beberapa dari penduduk yang mendiami pegunungan adalah, mereka mempunyai tingkat daya tahan tubuh, jantung, hati, dan paru-paru yang lebih besar. Sehingga daya tahan tubuh mereka akan lebih kuat ketika menaiki dan menuruni gunung. Hal ini sama dengan ketika kita melihat para penduduk lokal yang dengan ringannya mengangkat belerang dari atas gunung menuju ke dasar gunung, selain karena sudah terbiasa, mereka mempunyai daya tahan tubuh yang lebih karena memang sudah beradaptasi dengan lingkungannya dalam waktu yang cukup lama.

Menurut buku Fisiologi Dasar Kedokteran yang dikemukakan oleh Guyton. Dimana ketika tekanan parsial oksigen di permukaan laut adalah 159 mm Hg, maka pada ketinggian 50 ribu kaki bisa mencapai hanya 18 mm Hg. Untuk beradaptasi pada kadar oksigen rendah tersebut, sumsum tulang akan memproduksi retikulosit (sel eritrosit / darah merah muda) lebih banyak, Ventilasi maksimal alveolus hingga 1,65 kali lebih tinggi di atas normal (atas rangsangan kemoreseptor arteri yang mendeteksi penurunan kadar oksigen dalam darah), sehingga diharapkan Hemoglobin dalam eritrosit mampu mengikat jumlah oksigen lebih banyak. Makanya banyak atlet-atlet yang mau latihan di daerah dataran tinggi. Tapi kalau sudah balik lagi ke dataran rendah, dalam rentang seminggu, kadar eritrosit akan kembali turun sebagai adaptasi balik di dataran rendah. Grafik oksigen bisa ditunjukkan dalam grafik dibawah ini:



Setiap penurunan oksigen yang makin kecil, maka semakin banyak pula akan diproduksi retikulosit dalam darah, dimana manusia akan tetap dapat bertahan hidup dalam waktu tertentu dan kondisi tertentu. Jika kondisi tubuh melemah, maka tingkat produksi retikulosit juga akan sedikit, sehingga akan menyebakan adaptasi tubuh di iklim yang ekstrim akan lebih sukar juga, dan pada puncaknya, penderita akan mengalami hipoksia yang menyebabkan kematian.

Lingkungan dataran tinggi mempunyai kondisi yang berbeda dengan dataran rendah, baik dalam komposisi udara, tekanan oksigen, topografi, cuaca, iklim, jenis dan komposisi tanah, habitat, dan sebagainya yang kesemuanya menuntut jenis dan besar aktivitas fisik yang berbeda. Phyle dalam Janatin Hastuti (2005) menyatakan bahwa perbedaan dalam ketinggian mempunyai perbedaan dalam ekologi. Hidup pada tempat tinggi akan menerima stress ekologis yang kompleks, diantaranya sebagai berikut :

1. Hipoksia, yaitu keadaan kekurangan oksigen.
2. Barometer rendah, tekanan udara yang rendah.
3. Radiasi matahari tinggi, pancaran matahari yang langsung dan lebih dekat.
4. Suhu udara dingin. Baca
5. Kelembaban udara rendah
6. Angin kencang
7. Nutrisi terbatas, karena sulit untuk mencari asupan yang ada didataran rendah.
8. Medan yang terjal

Dengan bertambahnya ketinggian maka tekanan barometer menurun dan kepadatan udara juga menurun. Lingkungan udara pada tempat tinggi dengan tekanan dan kadar oksigen rendah merupakan faktor yang berpengaruh besar dalam adaptasi fisik maupun fisiologis manusia yang tinggal di tempat tinggi. Udara yang tipis (tekanan oksigen atmosfer yang rendah) pada tempat tinggi menimbulkan permasalahan lingkungan yang tidak dapat dimodifikasi oleh campur tangan manusia hingga abad ini. Semoga Bermanfaat...

Baca Juga Artikel Lain:

2 komentar:

  1. Mungkin kita perlu waktu untuk bisa beradaptasi pada kondisi ektrim tsb. Tapi, kalau sudah beradaptasi pasti terbiasa.

    nice info gan

    ReplyDelete

 
Toggle Footer