Breaking News
Loading...

Tips Untuk Pendaki Tambun (Tampak Bundar)

Tips Untuk Pendaki Tambun - Kegiatan olahraga apapun bila dilakukan oleh orang yang bertubuh proposional,pastinya akan membuat kegiatan itu menjadi lebih menyenangkan dan tentu saja lebih sehat dan ringan menjalaninya. Begitu juga dengan kegiatan olahraga seperti halnya panjat tebing, dan mendaki gunung. Dimana kegiatan ini lebih membutuhkan tambahan sedikit tenaga dalam menjalaninya.

Tulisan ini saya buat, untuk mengapresiasi sahabat saya, dimana dia sudah mampu melampaui kebesaran berat badannya yang mencapai 110 kg dengan hasil mencapai puncak Gunung Penanggungan yang terkenal dengan trek ekstrimnya itu. Walaupun waktu perjalanan untuk mencapai puncak Pawitra dilakukan lebih lama. Dari hasil itulah sebenarnya tidak gampang mendaki gunung dengan ketinggian 1653 mdpl dengan kondisi bawaan badan (lemak) yang over. Sungguh sangat menyulitkan dan menambah beban bawaan, walaupun tanpa membawa carier sekalipun.

Pendakian Gunung Penanggungan normalnya bila dilakukan dengan tubuh yang proposional dan juga dengan barang bawaan yang tidak over, maka waktu yang digunakan cukup hanya 1,5 sampai dengan 3 jam saja, pendaki sudah sampai di puncak bayangan via jalur Trawas/Tamiajeng/UBAYA. Bahkan mungkin bagi pendaki yang sudah terbiasa, bisa melampaui waktu lebih cepat dari perkiraan yang saya tulis. 

Sahabat saya bisa mencapai puncak bayangan dengan waktu 3,5 jam start malam hari jam 01.00. Sungguh menurut saya, ini adalah pencapaian waktu yang lumayan baik untuk pemula yang sama sekali tidak pernah naik gunung ditambah dengan berat tubuh yang lumayan, walaupun ia mendaki tanpa membawa carrier dan tas. Mungkin jika ada teman-teman yang mendaki Penanggungan pada tanggal 11-12 kemarin, pasti akan menjumpainya. Ini nih orangnya:


Berpose (Sukses Muncak)
Untuk mencapai puncak tertinggi Pawitra sungguh berat baginya. Start dari puncak Bayangan pukul 07.00 dengan kecepatan super ringan, akhirnya sampai juga dipuncak Pawitra pukul 10an lebih, jadi kurang lebih sekitar hampir 3 jam waktu tempuhnya. Hal yang menjadi penghambat adalah tanpa memakai sandal yang cocok untuk gunung dan lingkungan ekstrim lainnya. Waktu untuk mendaki Pawitra dari puncak Bayangan jika dilakukan dengan normal, hanya memakan waktu tidak lebih dari 30 menit.

Berawal dari rasa penasaran yang kuat, akhirnya mengantarkannya untuk membuat rencana naik Gunung Penanggungan. Berangkat dengan beranggotakan 5 orang, kami berangkat dengan menggunakan motor lewat jalur Tamiajeng.

Sesampainya di perijinan, semangat membara terkobar didadanya. Sampai saat awal naikpun bernyanyi riang gembira. Pertanda bahwa hatinya senang gembira, dan dengan bangga sembari menceritakan pengalamannya menaiki kawah Ijen. Mungkin menurutnya, Gunung Penanggungan tidak jauh berbeda dengan Kawah Ijen, oleh karenanya ia bersemangat dan senang naik gunung. 

Di Puncak Bayangan akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, tepat pukul 03.40 an, Mereka sampai di lokasi dengan ngos-ngosan, dan bilang kapok naik gunung, namun masih ingin menuju puncak Pawitra karena gengsi dan menyangkut harga diri.

Tepat pukul 6.30 an., kami berangkat dengan langkah perlahan. Kami saling menunggu beriringan saat naik ke puncak, karena memang terkandala betisnya yang berukuran 3 kali dari betis saya. Hehehe. Banyak orang-orang yang memberi semangat saat ia mulai menyerah ditengah jalan. Dengan terpaksa saya turun dan memberikan semangat agar tidak menyerah dan menyangkut harga diri karena tidak ada harganya.

Dengan perlahan menyoraki dan memperoloknya, perlahan ia bangkit dan naik dengan lembut seperti halnya siput yang berjalan naik keatas batok. Sedikit naik saja, lantas ia terhenti bilang menyerah, guyonan yang akhirnya jadi bahan lelucon yang ramai di Penanggungan saat itu. Sampai-sampai saat naik, sandal jepitnya ditaruh disebuah tempat tersembunyi agar tidak terasa berat. 

Samapai dipuncak diberi kabar hilangnya celana dan sandal, ditambah dengan peluh keringat yang menderumus jatuh gemericik. Sesampainya diatas, Ia langsung tertidur pulas. katanya: "Aku nggak golek adem, seng penting turu"



Dengan kata-kata yang tegas ia mengatakan tidak akan mau naik gunung lagi. Tapi selang sehari melalui FB, ia berkomentar dibawah ini.



Gunung memang untuk sebagian orang mengatakan "Gunung itu ngaenin" . Bilang sudah kapokpun pasti suatu saat ingin kembali.

Tiba saatnya untuk turun gunung, dari puncak ke Bayangan memang memakan waktu yang lama, tapi tidak selama saat naik. Maklum, Ia hanya betelanjang kaki. kurang lebih 2 jam turun ke Puncak Bayangan.

Yang paling membuat khawatir adalah saat turun dari Puncak Bayangan, disana ada berita ada korban yang jatuh dari jurang, dan korban patah tulang saat itu. Kami sempat khawatir. Karena kami turun gunung mulai pukul 13.00, namun sampai magrib belum juga turun. saat pukul setengah tujuh malam, teman kami Saiful mengkabarkan kalau ia galau dipondok, dan akhirnya kami menyusul menggunakan motor.
Pendaki Tambun Yang Kuat/ Bang Igor

Sedikit tips dari kejadian diatas:

1. Explore Informasi Destinasi

Hal ini sangat penting sebelum melakukan pendakian,mengetahui destinasi tujuan tempat kita mendaki dengan mempelajari rute, tempat lokasi, estimasi biaya, logistik yang perlu dibawa diatur seakurat mungkin, dihitung dari berapa hari kita diatas gunung.

2. Persiapan Fisik dan Mental

Tidak kalah kalah pentingnya dari hal yang nomer satu, setelah mendapatkan informasi akan tujuan destinasi, maka hal yang perlu disiapkan adalah persiapan fisik dan mental. Tentunya jika persiapan fisik, maka perlu dilakukan pemanasan ringan seperti lari-lari kecil, push up mungkin, atau sejenis olahraga ringan lainnya. Hal ini penting, agar saat pendakian tidak terlalu berat terasa, karena sudah melakukan olahraga kecil.

3. Nikmati Pendakian

Yang ketiga ini adalah, saat mendaki awal, terkadang target seseorang secara umum adalah puncak puncak puncak dan puncak. Lantas ia bersemangat membara mengejar puncak dengan mengeluarkan banyak kalori terbakar. Lantas ia tidak berfikir pasti akan turun lagi untuk kembali kerumah. Setelah sempoyongan sampai dipuncak, kaki akan terasa capek dan pastinya sakit. Lha inilah sebabnya, banyak pendaki yang terkadang terkilir, kram, dll.

Maka dari itu, untuk mengatasi hal semacam ini maka bersikap tenang dengan melangkah setapak demi setapak akan lebih baik daripada yang berjalan cepat dan berlari namun tidak kontinyu atau berakibat fatal bagi keselamatan. Nikmati pendakian pelan-pelan, pasti akan sampai ketujuan.

4. Manajemen Logistik dan Barang Bawaan

Saat sebelum mendaki, pastinya setiap orang harus mempersiapkan sebaik mungkin makanan-minuman apa saja yang harus dibawa, dengan rentang hari yang sudah ditentukan tepatnya. Perhitungannya itu tentu biasanya berdasarkan kebiasaan makan masing-masing dan tidak saklak atau paten harus dengan ukuran tertentu.


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer