Breaking News
Loading...

Mengenal Lebih Dalam Hipoksia Part I

Lingkungan dataran tinggi mempunyai kondisi yang sangat berbeda dengan dataran rendah, baik dalam komposisi udara, tekanan oksigen, topografi, cuaca,suhu, jenis dan komposisi tanah, habitat, keadaan alam, dan sebagainya yang kesemuanya menuntut jenis dan besar aktivitas fisik yang berbeda. Phyle dalam Janatin Hastuti (2005) menyatakan bahwa perbedaan dalam ketinggian mempunyai perbedaan dalam ekologi. Hidup pada tempat tinggi akan menerima stress ekologis yang kompleks, diantaranya sebagai berikut :

1. Hipoksia
2. Barometer rendah
3. Radiasi matahari tinggi
4. Suhu udara dingin
5. Kelembaban udara rendah
6. Angin kencang
7. Nutrisi terbatas
8. Medan yang terjal

Dengan bertambahnya ketinggian maka tekanan barometer menurun dan kepadatan udara juga menurun. Lingkungan udara pada tempat tinggi dengan tekanan dan kadar oksigen rendah adalah faktor yang berpengaruh besar dalam adaptasi fisik maupun fisiologis manusia yang berada dan tinggal di tempat tinggi. Udara yang tipis (tekanan oksigen atmosfer yang rendah) pada tempat tinggi menyebabkan adanya permasalahan lingkungan yang tidak dapat dimodifikasi oleh campur tangan manusia sampai saat ini. Yang hanya bisa dilakukan manusia hanyalah memperkecil resiko yang terjadi seperti halnya dengan berbekal tabung oksigen saat pendakian, dll. Karena segala hal yang berkenaan dengan alam bebas, tentu hal tersebut terlepas dari kendali tangan manusia.
Penyumbatan Sel .Sumber
Dalam hal ini, Hiposia pada point yang pertama merupakan salah satu penyebab kematian yang terbesar diatas ketinggian. Hipoksia sendiri adalah suatu kondisi dimana penderitanya adalah mengalami kekurangan suplai oksigen yang disebabkan oleh penyumbatan sel yang terjadi akibat kerusakan sel karena kurangnya persediaan oksigen di ketinggian atau tempat manapun yang suplai oksigennya terbatas. Hal ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang sangat cepat, yakni kurang dari 5 menit saja.

Adaptasi biologis terhadap hipoksia tertutama tergantung pada tekanan parsial oksigen di atmosfer, yang secara proporsional menurun dengan bertambahnya ketinggian. Udara mengandung 78,08 % nitrogen, 0,03 % CO2, 20,95 % O2, dan 0,01 % unsur lain. Gas ini bersama-sama mempunyai tekanan 760 mmHg pada 0 dpl dan disebut dengan tekanan barometer. Tekanan tiap-tiap gas berhubungan secara proporsional dengan jumlahnya, sehingga tekanan oksigen sebesar 159 mmHg. Pada ketinggian 3500 m tekanan barometer berkurang menjadi 493 mmHg dan tekanan oksigen berkurang hingga 35% dibandingkan dengan permukaan laut, dan pada ketinggian 4500 m tekanan parsial oksigen menjadi 91 mmHg atau turun sebesar 40 %. Turunnya tekanan oksigen pada tempat tinggi menyebabkan berkurangnya saturasi oksigen darah arteri karena proporsi pembentukan oksihemoglobin dalam darah tergantung pada tekanan parsial oksigen dalam alveoli. 

Manusia sendiri baru mengenal kehidupan di ketinggian yang direkayasa setelah mampunya dibuat pesawat terbang pertama kalinya dengan ketinggian jelajah di atas 10.000 kaki, terutama pesawat militer untuk peperangan. Pada manusia yang mencapai ketinggian lebih dari 3.000 m (10.000 kaki) dalam waktu singkat, tekanan oksigen intra alveolar (PO2) dengan cepat turun hingga 60 mmHg dan gangguan memori, serta gangguan fungsi serebri mulai bermanifestasi. Pada ketinggian yang lebih saturasi O2 arteri (Sat O2) menurun dengan cepat dan pada ketinggian 5.000 m (15.000 kaki), individu yang tidak teraklimatisasi mengalami gangguan. Resiko klinis hipoksia akut pada ketinggian di atas 10.000 kaki juga kemudian diketahui terutama pada penerbangan unpressured cabin (kabin tanpa rekayasa udara). Kondisi-kondisi tersebut diantaranya (pada yang ringan) : penurunan kemampuan terhadap adaptasi gelap, peningkatan frekuensi pernapasan, peningkatan denyut jantung, tekanan sistolik, dan curah jantung (cardiac output). Sedangkan jika berlanjut terus akan terjadi gangguan yang lebih berat seperti berkurangnya pandangan sentral dan perifer, termasuk ketajaman penglihatan, dan pendengaran yang terganggu. Demikian juga kemampuan koordinasi psikomotor akan berkurang. Pada tahapan yang kritis setelah terjadinya sianosis dan sindroma hiperventilasi berat, maka tingkat kesadaran akan berlangsung hilang dan pada tahap akhir dapat terjadi kejang dilanjutkan dengan henti napas. Berikut saya lampirkan diagram mengenai penurunan saturasi pada ketinggian:
Dari diagram diatas dapat disimpulkan bahwa setiap penambahan ketinggian, maka tekanan atmosfir akan semakin menurun pula, hal ini tentu berakibat pada suplai oksigen didataran tinggi yang juga menurun seiring dengan berkurangnya tekanan. Pada diagram dibawah ini akan terlihat, penurunan kadar oksigen secara terus menerus berkepanjangan akan mengakibatkan kematian:
Sumber
Jika penurunan oksigen mencapai dibawah 40 %, maka kerja otak akan bingung alias tidak lagi berfungsi dengan baik, setelahnya akan disusul dengan gejala pusing, muntah-muntah, hilang ingatan, batuk, pinsan, dan bisa juga meninggal.

Bersambung...

Baca Juga :


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer