Breaking News
Loading...

Pecinta Alam atau Penikmat Alam?

Pecinta Alam atau Penikmat Alam? - Kali ini saya pengen nulis opini, alias beropini mengenai trend yang sekarang ini sedang ngehit hit. Yakni perihal istilah predikat Pecinta Alam atau Penikmat Alam.
Trend berwisata saat ini sudah mulai naik daun, tercatat sejak awal tahun 2015, arus lonjakan wisatawan asing yang masuk ke Indonesia meningkat, dari data yang saya sadur dari badan statistik:
"Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Desember 2014 mencapai 915,3 ribu kunjungan atau naik 6,35 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman Desember 2013, yang tercatat sebanyak 860,7 ribu kunjungan. Demikian pula jika dibandingkan dengan November 2014, jumlah kunjungan wisman Desember 2014 naik sebesar 19,74 persen" (Sumber Badan Statistik Nasional).
Narsis Biar Eksis, Tapi Tetep Konservatif
Jika dilihat dari segi kunjungan wisman ke Indonesia, bisa disimpulkan kunjungan wisata domestik pasti lebih banyak jumlahnya. Hal ini bisa saya tunjukkan seperti halnya terjadi di Gunung Tervaforit Jawa Timur Gunung Semeru, ketika awal pembukaannya kemarin, belum 2 minggu saja kuota booking online sudah penuh. Menurut informasi, kuota yang di online tersebut adalah hanya separuh kuota yang ada, jadi secara real kuora sebenarnya adalah 50:50 antara walkin dan booking.

Dari banyaknya minat terhadap kunjungan wisata ini pertanyaannya adalah, apa yang sebenarnya menjadi motif para traveler/wisatawan mengunjungi lokasi wisata yang dituju?

Disini saya simpulkan, ada 2 kategori untuk para wisatawan/traveler ini, yaitu:
  1. Para Wisatawan adalah penikmat alam dan
  2. Para Wisatawan adalah pecinta alam
Kira-kira, ketika kita ditanya oleh teman atau seseorang apa tujuan kita bertraveler ria seperti digunung, dipantai, laut, gurun pasir, taman, kebun, kebun binatang, air terjun, camping ground, dan sebagainya lah. Apa yang kita jawab?

Mungkin sebagian besar akan menjawab, "Saya pecinta alam Mas, Pak, Mbak, Nek".
Lantas apa yang sudah kita perbuat untuk alam kita ini? apa kita sudah melestarikan alam ini?
Bukankah ketika kita mengaku sebagai pecinta alam, seharusnya bukankah kita tidak menginjakkan kaki dialam yang nantinya akan terjadi kekacauan seperti sampah, vandalisme, dan yang paling parah ketika alam sudah marah, maka akan memakan korban alias kematian.

Jika dikorek lebih lanjut lagi, kebanyakan orang yang mengaku pecinta alam, malah mereka sendiri yang mengotori istilah pecinta alam itu. Banyak studi kasus yang sudah terjadi dan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. studi kasus ini nyata kami alami ketka berkunjung ke banyak tempat di Indonesia.

Mari kita lihat ciri-ciri antara Penikmat alam dan pecinta alam:

Ciri-ciri Penikmat Alam:
  • Mengutamakan selfie setiap travelling dimanapun tempatnya, dan terkadang selfie ini menjadi prioritas utama dalam perjalanannya. Sebenarnya selfie disini tidak masalah, hanya saja yang sewajarnya dan tetap utamakan keselamatan saja.
  • Tidak peduli dengan alam yang dipijak. Lha yang disini ini paling banyak, dan paling berbahaya untuk alam. Sikap acuh tak acuh penikmat alam mengesampingkan keseimbangan alam dengan seenak udelnya mengotori alam dan bahkan merusak.
  • BErambisi ingin mengunjungi semua tempat-tempat yang indah demi mendapat pujian Petualang Super Sejati ala JJM mungkin.. HEhehhe.
  • Menyukuri alam bukan hanya dengan berucap, namun juga dengan tindakan nyata melakukan konservatif alam. Namun satu hal juga, tidak pernah meninggalkan kewajiban sebagai hamba (Shalat bagi yang muslim). Ini yang paling susah menurut saya.
Ini Contoh Perbuatan yang?...., sumber gambar nemu di Google. Klik
Pernyataan diatas hanyalah opini saya pribadi, jika mungkin dari ketiga pernyataan tersebut ada yang menusuk hati, berarti kita masih beruntung, kita masih punya hati buat merubah alam Indonesia lebih indah lagi, untuk siapa sih? ya tentu untuk kita lagi dan anak cucu kita.
Berikut Ciri-ciri pecinta Alam yang sejati:
  • Selfie juga sih, tapi sewajarnya dan safety first tentunya. Selfie yang dimaksud adalah untuk memoriam dan juga untuk edukasi kepada yang lainnya.
  • Selalu tidak meninggalkan apapun kecuali jejak. Jadi tipe ini sangat menjaga alamnya dnegan tidak mengotori alam sedikitpun. Membawa tas khusus sampah bila perlu, dan menaruh sampah didalam kantung celana.
  • Mencari persahabatan dan pertemanan seluas-luasnya, karena jaringan pertemanan tentu banyak manfaatnya, mengundang riski diantaranya.
  • Selalu menunaikan kewajiban sebagai hamba.
  • Ikut turut serta dalam pemeliharaan alam, walaupun secara tidak langsung, hal ini bisa dilakukan dengan tidak mengotorinya.
Yang Bertakwa Kepada Tuhannya Pasti Akan Santun Terhadap Alam
Lha, mau pilih yang manakah kawan?, jangan sampai ketika alam sudah rusak kemudian marah, kita hanya meratapi dan menyesal dihari kemudian. Pengalaman berharga seperti di Pulau Sempu yang rencanannya akan ditutup dan juga kenaikan HTM Semeru yang menggila itu termasuk dampak dari perbuatan kita yang sewenang-wenang dengan merusak alam dan isinya. Lantas kita mau apa?

JANGAN NYAMPAH 
YANG MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN ADALAH SAMPAH
DAN SAMPAH HARUS DIBUANG DITEMPAT SAMPAH.

1 komentar:

 
Toggle Footer