Breaking News
Loading...

Hamil Tanpa Suami di Tengger Bayar Semen 100 Sak

Hamil Tanpa Suami di Tengger Bayar Semen 100 Sak - Banyak cara untuk menekan angka hamil diluar nikah atau pemerkosaan, di Malang ada sebuah tradisi yang unik dan efektif, Tradisi Petekan, ya tradisi petekan yang dalam bahasa Jawa adalah berarti menekan ini merupakan suatu tradisi yang sudah di lakukan sejak abad ke 17 silam. Tradisi ini melibatkan seluruh warga berjenis kelamun wanita, baik gadis atau janda yang masih subur. Tradisi yang dalam bahasa medis nya adalah palpasi ini dilakukan dengan cara melakukan penekanan di sekitar perut dan kelamin, tujuannya adalah untuk mengetahui adanya janin didalam perut.Janin yang sudah bisa dideteksi dengan petekan yaitu usia kehamilan mulai dari 1,5 bulan- 9 bulan. 

Tradisi Petekan berlangsung di desa Ngadas, kecamatan Pomcokusumo, Kabupaten Malang, desa ini jaraknya lumayan dekat dengan Gunung Bromo, yakni hanya sekitar 8 Km, jika dari Malang Kota berjarak sekitar 32 Km. Dari tahun ketahun, kunjungan wisatawan melalui desa ini semakin meningkat daripada melalui jalur Probolinggonya.
Lanjut ke bahasan Petekan, tradisi ini dinilai sangat unik adalah, karena hukum yang dibuat sangat dipatuhi oleh warga setempat, serta hukuman yang diberlakukan sebagai efek jeranya juga akan membuat pikir-pikir para pelaku sex bebas, pemerkosaan, atau perselingkuhan. Bagaimana tidak, untuk hukuman bagi seseorang yang masih belum menikah atau jika dalam istilah agama Islamnya adalah Ghoiru Muhsan, maka akan disuruh membayar dengan 50 sak semen, semen itu akan diserahkan ke desa. Hukuman ini tidak pandang bulu, baik kaya atau miskin, hukumannya sama. Setelah membayar denda, mereka akan dinikahkan secara adat dan secara agama (resmi)

Yang lebih berat lagi adalah bagi seseorang yang sudah menikah atau sudah berkeluarga, hukumannya adalah didenda dengan membayar denda 100 sak semen, ditambah lagi dengan dipermalukan dengan cara menyapu halaman seluruh desa, dari ujung sampai ujung hingga bersih. Setelah itu mereka akan dinikahkan hanya secara adat saja sampai bayi itu keluar, dan selanjutnya harus cerai. Karena hukum adat di Tengger tidak menghalalkan poligami, untuk itu bagi yang sudah menikah, maka setelah bayinya lahir maka harus cerai. Sebagai warning, walaupun sudah melakukan pernikahan adat, mereka juga tidak diperbolehklan berhubungan badan.

Hukuman ini menurut beberapa sesepuh sudah sangat mujarab. Terbukti dengan minimnya kasus hamil diluar nikah di Suku Tengger ini. Tujuan Petekan tidak lain adalah ingin memberikan efek jera kepada para pelaku, dan menjadi sumber pelajaran bagi para calon yang mungkin berniat melakukan zina agar tidak melakukan perbuatan zina. 

Sumber : JP, dan berbagai sumber

Baca Juga Artikel Lain :

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer