Breaking News
Loading...

Pesan Moral Film The North Face Untuk Pendaki

Setelah sebelumnya saya menulis mengenai review film yang berjudul Pesan Moral Film Everest Untuk Pendaki, kali ini saya juga akan mereview sebuah film yang bergenre sama seperti halnya film Everest. Film yang akan saya review kali ini adalah film yang berjudul The North face, film ini sudah saya bahas secuplik di artikel lain tentang Filosofi Merek North Face dan Eiger bagi Penikmat Produknya, namun tidak lengkap jika bahasan yang ada di artikel tersebut tidak dilanjutkan dengan pembahasan mengenai film ini ditulisan yang khusus membahas mengenai review film The North Face.

Judul Film The North Face (Nordwand dalam bahasa Jerman) diambil dari sebuah jalur pendakian Gunung Eiger yang berada di Canton Ben negara Swiss, North Face adalah sebuah jalur pendakian terberat Gunung Eiger yang saat ini terkenal dengan jalurnya yang menantang, sehingga menjadikannya sasaran pendakian untuk mengetahui ketangguhan seorang pendaki yang berambisi. Khususnya para pemuda-pemuda yang saat itu menjadikan memanjat gunung adalah sebuah kegiatan yang dinilai sebagai tolak ukur ketangkasan mendaki. Jalur ini lah yang selanjutnya dijadikan latar pendakian Gunung Eiger difilm yang mengisahkan kisah nyata pada tahun 1936
Image Source: your10.com
Diawali dengan cuplikan berita yang mengisahkan seorang penerbang asal Jerman yang bernama Ernst Udet sedang melakukan pencarian terhadap dua pendaki yang terjebak didalam badai Gunung Eiger kala itu, penerbang ini bahkan untuk pertama kalinya berani mendekat pada gunung salju itu hingga jarak 20 meter. Setelah melakukan pencarian lewat jalur udara itu, kedua pendaki asal Munich yang bernama Max Mehringer dan Karl Sedlmayer ditemukan tewas didalam sebuah bivak yang dibuatnya, mereka ber survival didalam badai hingga tubuh mereka tak kuasa menahan dan menewaskan keduanya. Hingga saat ini, tempat tersebut dinamakan dengan nama death bivouac (Bivak kematian). Kejadian itu tepat pada tahun 1935.

Menyusul atas kejadian tragedi itu, pejabat berwenang wilayah Berne memutuskan untuk melarang keras pendakian North Face. Berkenaan dengan kondisi saat itu, memang puncak Gunung Eiger masih belum tertaklukkan bila melalui North Face. Penakhluk Puncak North Face sudah ada saat itu di tahun 1858 yang dilakukan melalui jalur sisi barat oleh pendaki bernama Charles Barrington dan guidenya C. Almer dan Peter Bohren.

Penaklukkan jalur Hinterstoisser-Kurz
Tidak berhenti sampai disitu, permainan dimulai. Saya sebut permainan karena dalam pendakian melalui North Face ini adalah sebuah drama yang akan disuguhkan melalui berbagai media. Karena jika pencapaian ini berhasil, maka sudah tentu bagi pendaki akan mendapatkan penghargaan yang sangat dari masyarakat, serta tentunya mereka akan menjadi pahlawan olimpiade saat itu. Bagi media, tentu akan menjadikannya berita yang laris manis dipasaran, karena berita sebelumnya hanyalah memberitakan sebuah kegagalan pendakian melalui jalur North Face.

Pendakian dalam film North Face ini mengisahkan sebuah kisah kedua sahabat yang memiliki hobi yang sama yaitu Andi Hinterstoisser dan Toni Kurz. Keduanya adalah pendaki profesional yang sudah berpengalaman dalam mengarungi tebing-tebing curam, dan selalu membuat jalur yang berbeda setiap pendakiannya, kemudian jalur-jalur tersebut diberilah nama mereka berdua seperti halnya didalam cuplikan film tersebut.
Gunung Eiger
Pendakian Gunung Eiger Nordwand (The North Face) kali ini adalah untuk mengukir sejarah yang mana tujuannya utama pendakian Gunung Eiger melalui jalur North Face. Kali ini Toni dan Andi (Jerman) tidaklah sendiri, kompetitor mereka hanyalah dua orang, namun keduanya juga mempunyai ambisi yang sama, yakni ingin menjadi penakhluk pertama puncak Eiger melalui North Face, keduanya adalah Willy Angerer dan Edi Rainer asal Austria. Keempat pendaki ini selanjutnya melakukan pendakian bersama, namun tetap berbeda tetap dengan ego masing-masing.

Diawali dengan keberangkatan Andi dan Toni yang mencuri start lebih awal, mereka berhasil mendahului perjalanan sampai lumayan jauh jaraknya, disusul dengan Willy dan Edi yang mencoba menyusul mereka dengan menggunakan jalur yang sama. Ketika Toni memaku piton dibebatuan, tak sengaja batu itu remuk dan jatuh kebawah, sehingga beberapa serpihan batu tersebut mengenai bagian kepala Willy sampai menyebabkan pendarahan, dari sinilah cerita heroik ini dimulai. Dengan memaksakan diri, Willy terus ingin ke puncak, walaupun Edi sudah mengingatkan agar tidak melanjutkan perjalanan meraih puncak.


Cerita pun berlanjut, hingga sampailah Andi dan Toni ditempat mereka menaruh peralatan climbing sebelumnya. Mereka menyiapkan terlebih dahulu peralatan climbing dengan memanjat ringan sebelum pendakian sebenarnya. Tujuannya adalah tidaklah lain agar memperingan saat melakukan wall climbing yang masih belum dipenuhi dengan es. Persiapan yang sudah matangpun tak luput dari kealpaan, crampon (tapak kaki besi yang digunakan pada sepatu untuk mendaki es) yang seharusnya mereka bawa pun tidak ada, sehingga menyulitkan saat perjalanan nanti melalui dataran es yang licin. Terpaksa mereka harus melakukan cara lain dengan membuat jalur terlebih dahulu agar tidak licin dan bisa bergerak sampai atas.


Karena kecongkakan Willy yang memaksakan diri malah mengakbibatkan ia cidera dibagian kaki yang menyebabkan pendarahan yang sangat dan membuatnya tidak bisa berjalan lagi. Dalam keadaan yang sudah lemahpun ia masih terobsesi agar bisa sampai ke puncak. Karena melihat keadaan kompetitor yang cidera dan tidak mungkin bisa lagi melanjutkan perjalanan lantas tidak membuat Toni dan Andi meninggalkan mereka dalam keadaan tidak berdaya. Berdebatan pun dimulai, dimana Andi yang sangat menginginkan puncak dengan harapan bisa meninggalkan Willy dan Edi, namun Toni berfikir lain, ia lebih mementingkan keselamatan Willy, dan memutuskan untuk berbalik arah.

Kisah heroik Penyelamatan Willy
Niat yang baik tidak selamanya berbuah manis, usaha untuk menyelamatkan Willy pun mengalami hambatan yang berat karena terpaan badai yang tak disangka-sangka. Hal ini membuat ke empat pendaki ini terutama Willy mengalami hipotermia. Dengan sangat berat mereka bergerak melawan badai, namun pasti sudah tahu hasilnya, kompetisi melawan alam pastilah pemenangnya adalah alam itu sendiri. diawali Andi yang terhempas gulungan es yang jatuh dari atas menimpa dirinya yang menyebabkan dia dan Willy ikut tergantung tali yang masih tertahan piton. Edy yang tewas setelah kepalanya terbentur batu yang besar.

Peristiwa maut itu terjadi setelah sebelumnya tali yang sudah dipasang Andi dicabut oleh Edi, keadaan tersebut memaksa Andi untuk membuat jalur lagi, namun karena kondisi Andi yang hipotermia maka hal tersebut sangatlah mustahil untuk dikerjakan Andi. Satu hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini, jangan pernah iri atau merasa tersaingi saat mendaki gunung, karena sebenarnya tidaklah ada kompetisi dalam mendaki gunung dengan orang lain, kompetisi yang terjadi adalah kompetisi terhadap diri sendiri, bagaimana kita mampu menahan iri, dengki, benci, egois, dan sifat negatif lain.

Adegan Andi memotong tali tambang
Toni yang tidak terkena terpaan salju yang menggulungpun menahan tambang yang menahan Andi dan Willy yang tergantung.  Andi yang tersadar karena teriakan Toni akhirnya bergerak keatas berusaha menghampiri Toni, saat melintasi Willy, Andi berusaha membangunkan Willy, namun willy tidak menyahut. Dalam kondisi dramatik ini, piton yang menahan mereka berdua agak longgar dan segera jatuh. Andi berucap "Sudah tidak apa-apa, agar kamu bisa pulang" sambil memegang pisau dan memotong tambang dan menyebabkan ia terjatuh dan tewas.

Toni tewas tergantung didekat Eigerwand Station
Tinggal Toni sendiri yang mengarungi badai itu, seperti pamaparan awal, ia sudah tidak mampu lagi bergerak. gerak tubuhnya melemah termakan dinginnya es yang menyelimuti dirinya. Tim penyelamat pun bergegas mengupayakan penyelamatan melalui jalur kereta Eigerwand station. Karena keteledoran yang dilakukan penyelamat dengan membawa tali yang kurang panjang menyebabkan tubuh lemah Toni tidak bisa dievakuasi. Toni perlahan tewas tergantung dengan damai, tubuhnya membeku termakan deburan es.
In Memoriam Toni Kurz dan Andi (IS: google)
Hikmah yang dapat dipetik dari kisah di film ini adalah, buang ego kita dan ambisi kita saat pendakian. Sosok seperti Toni inilah yang menjadi lakon dalam pendakian tahun 1936 Gunung Eiger. Semoga kita dapat mengambil hikmah. 

Baca Juga:

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer