Breaking News
Loading...

Bahasa Jawa Bahasa Terlengkap Di Dunia?

Dalam sebuah pengajian yang sangat rekat dan ramai dengan berbagai suku disuatu pondok pesantren, hadir pula santri-santri yang berasal dari luar negeri. Ketika itu pengajian kali ini adalah mengkaji sebuah kitab kuning dengan terjemahan Bahasa Jawa yang memang sejak dari dahulu hingga sekarang masih terpelihara dan terus dipelajari dan diamalkan. Dengan langgam yang khas berbunyi pada permulaan pengajian. Alhamdu (utawi sekabehane puji), lillahi (iku kagungane Allah), rabbil'alamina (kang paring rahmat wong alam kabeh). dan seterusnya.


Usai mengaji, banyak diantara mereka bertanya-tanya. Kenapa setiap sebagian banyak kitab kuno seperti halnya kitab kuning, pasti menggunakan terjemahan Bahasa Jawa. Maklum saja, sebagian besar dari mereka adalah masih termasuk santri baru. Orang Indonesia sendiri dari suku diluar Jawa saja tidak begitu mengerti mengenai apa yang disampaikan Sang Ustadz, namun karena sebelumnya sudah sedikit mempelajari kitab-kitab tersebut dan sebagian terjemahan memang menggunakan Bahasa Jawa. Maka santri harus sedikit paham bahasa kitab klasik tersebut.
Rice Plant / Pari
Kali ini, ada sebuah pertanyaan dari salah satu santri dari Eropa yang bertanya. Saat itu, sang Ustadz menerangkan kelebihan bahasa Jawa dari bahasa lain, selain juga keistimewahan Bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran. Ia bertanya: "Ustadz, kenapa bahasa Jawa menurut ustadz adalah bahasa terlengkap di seluruh dunia? dasarnya apa usatadz?".
Sang Ustadz hanya bisa tersenyum dan menuliskan dua kata dipapan yaitu kata yang berasal dari bahasa penanya, yaitu bahasa Inggris. Kata itu adalah "Rice" dan "Die/Dead/Pass Away". Sang Ustadz balik bertanya kepada para santrinya "Yaa auladi, apa artinya dua kata berbeda yang saya tulis dipapan ini?" . Serentak para santri menajawab "Nasi dan Mati yaa Ustadz". Ustadz menjawab "Yaa benar anakku". Kembali sang ustadz bertanya kepada mereka "Tahukah kalian turunan kata lain yang mempunyai arti yang serumpun yang menunjukkan pada kedua kata itu?" . Santri-santri pun terdiam tanda tak tahu.

Baca Juga  : Tips Bacpackeran Murah Ke Rinjani

Ustadz pun menjawab dengan kalem. Begini anakku, didalam bahasa Jawa, ada sebuah kata tingkata-tingkatan, dimana kata-kata ini ditujukan kepada misal yang lebih tua atau yang kita hormati seperti Ayah, Ibu, Guru, dll. Seperti kata, Panjenengan, Penno, Kowe, Kon, Awakmu. Panggilan tersebut artinya sama, yaitu kamu (bahasa Indonesia), You atau thee (Bahasa Inggris), anta, antum, anti (bahasa Arab). Disinilah letak kekhasan Bahasa Arab. Mari kita bahas kedua kata diatas.

Baik, dari kata Rice yang berarti nasi atau nasi, jika kamu melihat pohon disana (Ustadz sambil menunjuk ke arah sawah yang ada padinya sudah menguning) apa namanya dalam bahasa kalian? "Rice tree Ustadz" . Kami menyebutnya disini adalah Pari jika masih berupa pohon, sedang jika yang sudah tumbuh, maka buahnya kami namai Janur. 

Kembali Ustadz bertanya: "Jika sudah dipanen, apa nama butiran-butiran ini ketika masih ada kulitnya?"

Santri Eropa pun menjawab :"Rice Ustadz"
Ustadz kembali menjawab: "Disini kami menamainya Gabah anakku"
Serentak santri-santri lainpun tertawa mendengarkan penerangan Ustadz yang cukup menghibur itu.

Kembali Ustadz bertanya: "Kalau sudah dikelupas anakku, namanya apa?"
Santri Eropa pun menjawab :"Rice Ustadz"
Ustadz kembali menjawab: "Disini kami menamainya Uwos atau Beras anakku"
Serentak santri-santri lainpun tertawa lagi.

Kembali Ustadz bertanya: "Kalau sudah di masak anakku, namanya apa?"
Santri Eropa pun menjawab :"Rice Ustadz"
Ustadz kembali menjawab: "Disini kami menamainya Sekul atau Sego anakku"
Serentak santri-santri lainpun tertawa lagi, terutama anak-anak Jawa asli.

Kembali Ustadz bertanya: "Kalau sudah di masak tapi cuma satu biji atau hanya sedikit, namanya apa anakku?"
Santri Eropa pun menjawab :"Rice Ustadz"
Ustadz kembali menjawab: "Disini kami menamainya Upo anakku"

Kembali Ustadz bertanya: "Kalau umpama di masak, Lalu dibawah itu ada bekas nasi yang gosong, namanya apa anakku?"
Santri Eropa pun menjawab :"Rice Ustadz"
Ustadz kembali menjawab: "Disini kami menamainya Intip atau Entep anakku.

Kembali Ustadz bertanya: "Kalau umpama nasi ini dijemur dan kering. namanya apa anakku?"
Santri Eropa pun menjawab :"Dry Rice Ustadz"
Ustadz kembali menjawab: "Masih ada ricenya ya. Disini kami menamainya Karak anakku.
Santripun tertawa lagi tiap ustad mengemukakan istilah lain tentang rice.

Kembali Ustadz bertanya: "Ada lagi, disini kami biasanya mengambil air didih putih nasi ini. namanya apa anakku?"
Santripun kemudian diam.
Ustadz kembali menjawab: "Disini kami menamainya Tajin anakku. Dan masih banyak lagi kata yang mempunyai arti seperti itu anakku. Lengkap. Itulah kenapa Bahasa Jawa adalah Bahasa Paling Lengkap di Dunia.

Baca Juga : 
Yang terakhir, ini sebuah kata yang bermakna meninggal dunia, tapi mempunyai tingkatan arti dan juga maknanya berhubungan dengan istilah tersebut.

Ketika orang baik yang meninggal dunia, seperti Kyai, Guru, dll. Maka diberi nama  Sedho yang artinya seksoe wes ba'do (Siksanya didunia sudah berakhir). Jadi di Akhirat tinggal enaknya saja, karena cobaan didunia sudah usai.

Ketika orang biasa yang meninggal maka diberi istilah Mati yang artinya nimkate wis ganti.

Ketika ada orang yang agak gak baik meninggal, maka namanya adalah Matek artinya nimmate wes entek.

Dan terakhir, julukan buat orang yang ahli maksiat. Yaitu Bongko, artinya amargo ape di obong nang neroko (Karena mau dibakar di neraka).

Serentak santri-santri lainpun tertawa lagi, Karena baru kali ini mereka mendengar istilah-istilah tersebut.

Demikian tulisan ini, semoga memberikan inspirasi...

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer