Breaking News
Loading...

Pecinta Alamlah Yang Bersalah Atas Kerusakan Alam

Judul yang saya curahkan mungkin agak kontradiktif dari makna sesungguhnya berkenaan dengan nama pecinta alam. Pecinta alam atau lebih dikenal dengan singkatan PA atau bisa juga PALA mulai beralih fungsi dari makna sesungguhnya seperti peyorasi (Penyempitan makna kata) yang saat ini terjadi. Banyak di antara mereka yang menamai organisasi mereka sebagai pecinta alam justru yang menyebabkan ketidakseimbangan pada alam. Rusaknya hutan akibat sampah, kebakaran gunung atau hutan, tokai yang dibuang tidak semestinya, air seni yang baunya minta ampun, tissu kering atau basah yang dibuang dengan sengaja karena menganggap bisa mudah terurai tanah, asap rokok dan juga puntungnya, dan segala macam barang lain yang kita tinggalkan di alam. Bukankah apa yang saya sebutkan di atas mungkin salah satunya pernah kita lakukan saat di alam?, atau mungkin semuanya sudah kita lakukan?, kalau iya jawabannya, segeralah bertobat.

Sampah Di Ranukumbolo
Tulisan ini adalah refleksi dari keprihatinan batin para pegiat alam sesungguhnya yang mengeluhkan banyak perubahan alam yang signifikan disebabkan oleh ulah tangan manusia. Siapa lagi  coba yang masuk gunung dan hutan kalau bukan orang yang mengaku pecinta alam!, namun tingkah dan laku mereka jauh sekali mencerminkan perilaku pecinta alam yang sesungguhnya. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa kesalahan kecil yang berakibat besar pada alam jika dilakukan secara terus menerus dan dengan intensitas yang bergelombang besar. 

Sesungguhnya sebuah bencana besar adalah berawal dari bencana yang kecil pula..

1. Membuang Tissue di Tanah Usai Buang Air

Kesalahan yang paling sering dilakukan para pendaki adalah membuang tissue bekas pemakaian berak atau kencing di tanah, baik dipendam ataupun dibuang begitu saja. Tahu tidak, buang air di alam juga ada adabnya yang harus dilakukan. Baca Juga Adab Buang Air di Alam. Kita harus bisa menempatkan diri bahwa kita adalah berperan sebagai tamu saat menyusuri alam, bukan malah sak udel e dewe (seenaknya sendiri), tapi harus ada tata kramanya. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan alam yang memang sebelumnya sudah sangat seimbang sebelum kehadiran kita.
Tissue Berserakan
Yang pernah kami alami sewaktu mendaki gunung di Jawa Timur, kami menemukan seonggok kotoran manusia yang sudah mengering dan dipenuhi lalat. Kotoran itu sangat berbau busuk menusuk hidung dan juga mengganggu pandangan mata yang melihatnya, sewaktu kami dekati sumber bau busuk, terlihat onggokan  dengan dibubuhi tissue yang menutup. Jangan ditanya lagi bagaimana rupa dari tissue yang mungkin usianya sudah bulanan itu, tentu sudah berubah warna tak terhingga. Ulah siapa itu kalau boleh kami tahu? yang pasti orang yang mengaku bahwa dirinya adalah pecinta alam.

Tissue bila dibiarkan saja di atas tanah atau dipendam, alam membutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk mengurainya secara sempurna. Bahkan waktu itu bisa lebih bila serat tissue lebih tebal. Tissue yang paling lama terurai adalah jenis tissue basah yang berserat tebal. Alam mengurai jenis tissue basah lebih dari 18 bulan. Dengan kita meninggalkan sisa tissue yang sudah kita tempeli kotoran ke alam, berarti perlahan kita sudah merencanakan merusak alam untuk anak cucu kita.

Lantas apa kita dilarang menggunakan tissue sebagai alat pembersih?, tentulah tidak. Namun jangan meninggalkan sisa tissue itu tertinggal di alam begitu saja. Kamu bisa membawanya dengan menaruh di plastik khusus, atau di campur dengan sampah lainnya. Bila takut bau, kamu bisa membawa kertas minyak dan membungkusnya, bungkus dan masukkan kedalam plastik sampahmu.

2. Membuat Api Unggun


Kegiatan yang paling sering dan umum dilakukan para pendaki dan juga orang yang mengaku pecinta alam. Kebanyakan faktor yang dijadikan alasan adalah karena dingin, budaya, ataupun yang lainnya. Logikanya adalah, semua gunung jika malam hari, pastilah dingin, namun tingkat suhunya tergantung dari ketinggian tentunya, lantas apakah membuat api unggun dilarang?, jawabannya tidaklah selalu iya atau dilarang.

Api ungun sudah jadi budaya, bahkan banyak dari mereka melegalkan menebang atau memotong ranting pohon demi mencari kayu kabar. Gilanya lagi, sisa-sisa pembakaran api unggun tidak dibersihkan dengan argumen bahwasannya sisa pembakaran adalah sampah organik sama seperti daun. Sampai sekarang api unggun masih lah pro kontra. Baca Juga Pro Kontra Api Unggun.

Yang jadi permasalahan dan kerusakan alam adalah karena sisa pembakaran selalu dan pasti ditinggalkan ditempat. Dan membuat api unggun juga dapat menimbulkan kebakaran hutan seperti tulisan saya yang ada di Pro Kontra Api Unggun. Bila tetap ingin menyalakan api unggun, pastikan sisa pembakaran dibawa turun kembali, dan jangan lupa juga, dilarang memotong atau menebang pohon hanya untuk menyalakan api unggun.

3. Mencuci Di Danau atau Sumber Air Secara Langsung

Kegiatan yang sungguh akan merusak alam ini dilakukan secara terang-terangan dengan berbagai perspeksi yang sangat gila. Sebagai contoh, kasus yang terjadi di Danau Segara Anak. Bila anda ingin membuktikannya, cukup mudah, silahkan menuju ke tepian danau Segara Anak dan lihatlah apa yang ada di tepian danau? . Disana banyak sekali terdapat bekas cucian piring, nasi, tulang ikan, sampah plastik, dan parahnya lagi danau Segara Anak juga dipakai langsung mandi bersabun dan berkeramas.

Padahal secara kandungan airnya, air di danau Segara Anak masih sangat bersih dan bisa langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Bukan tidak mungkin air di Danau Segara Anak akan menjadi tak layak dan tercemar akibat ulah kita semua. Ini hanyalah dilihat dari beberapa kasus yang terlihat, masih ada banyak sumber air yang digunakan semena-mena seperti halnya Danau Segara Anak. Untung saja Danau Ranu Kumbolo di Gunung Semeru tidak mengalami kepahitan seperti itu.

Apakah kita tidak boleh memakai air atau mencuci di danau atau sumber air?. Tentu saja boleh, kita bisa mengambil air secukupnya, kemudian buatlah sebuah lobang untuk membuang sisa makanan yang organik dan pisahkan sampah plastik di trash bag. Cuci lah diatas tanah yang agak jauh dari sumber air agar sumber air tersebut tetap alami dan bisa kita nikmati sampai anak cucu kita nanti.

4. Berak Di Atas Tanah

Salah satu hal yang juga sangat menyebalkan jika menjumpai hal demikian saat kita hendak ingin buang air besar juga. Masih belum banyak yang tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu jika saat buang air besar tidak memendamnya ke dalam tanah, padahal metode yang dilakukan cukuplah simpel dan tidak membutuhkan isntrumen yang sulit. Bila tidak membawa cetok kecil, tinggal gunakan ranting kayu yang kuat saja sudah bisa menggali tanah sampai dalam.

Baca Juga : Adab Buang Air di Alam Dengan Baik dan Benar



Ketahuilah, kotoran kita yang tidak layak itu bila tercium pun sudah sangat menggangu siapapun yang menciumnya termasuk kita sendiri. Itu bila dilihat dari segi pencemaran bau, belum lagi dampak penyakit yang timbul akibat bakteri E-coli yang ada pada kotoran manusia. 

5. Membuang Sampah Sembarangan


Sampah Di Rinjani (Sumber : Green Book.org)
Baca Juga : Backpackeran Ke Rinjani

Sesuatu yang mungkin sudah jadi kewajaran kali ya, banyak dari kita menyepelekan sampah kecil seperti seperti bungkus permen sekalipun. Dimanapun kita mendaki, pasti akan menjumpai sampah-sampah ini, baik kecil maupun besar. Semuanya komplit ada dimana-mana. Banyak turis yang sangat menyayangkan akan keindahan alam Indonesia yang dikotori oleh bangsanya sendiri dengan sampah. Sampai-sampai ada beberapa komunitas yang rela membersihkan Gunung Rinjani demi memberikan contoh kepada para pendaki lain agar tidak membuang sampah sembarangan.


-------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Tulisan di atas adalah sebagai refleksi diri kita dan juga bukan semata-mata menyalahkan pecinta alam. Pecinta Alam sesungguhnya adalah dia yang tidak akan pernah rela mengotori alam walaupun hanya dengan abu rokok sekalipun...



0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer