Breaking News
Loading...

Menelusuri Sejarah Penjara Koblen Yang Menjadi Saksi Tawanan Gerbong Maut

Penjara Koblen dibangun pada tahun 1930 di masa VOC Belanda masih berkuasa di negeri Indonesia. Kongsi ini difungsikan untuk menampung para pemberontak Jepang yang kalah pada perang 10 November dan juga para pejuang kita yang ikut meneriakkan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dinding Penjara Koblen
Pintu Utama Penjara Koblen yang menjadi saksi bisu kebengisan VOC
Pada saat Jepang masuk dan ikut andil dalam penjajahan di Indonesia, situasi Indonesia yang awalnya dimanfaatkan Jepang karena menjanjikan kemerdekaan, membuat bumi Indonesia makin parah. Penghianatan Jepang yang katanya akan memberikan kemerdekaanpun bertolak pada penjajahan pula yang pada saat itu dominasi Belanda menjadi patah karena adanya Jepang. Saat rakyat marah, Jepangpun dengan Kempetai (Polisi Militer) dapat ditumpas oleh pejuang kita, hingga dapat dikuasainya Tugu Pahlawan yang dulunya bernama Raad van Justitie (Pengadilan Belanda) dan saat terjadinya perang, tempat tersebut dijadikan markas Kempetai. Tempat tersebut kemudian dibombardir sekutu.
Namun Belanda yang sudah menjajah Indonesia lebih dari 350 tahun itu tidak tinggal diam begitu saja, ia datang kembali dengan membonceng sekutu lain untuk dapat masuk memanfaatkan momentum jatuhnya Jepang karena perang dunia ke 2 itu. Melalui VOC lah dominasi Belanda kembali merajalela dan kembali melakukan sporadis penculikan dan juga penganiayaan kepada para pejuang. Pada peristiwa 23 November 1947 penjara ini digunakan menampung para tahanan yang berasal dari Bondowoso. Pada pengangkutan terakhir, yakni di Stasiun Wonokromo Surabaya, sebanyak 46 pejuang meninggal dunia karena kepanasan, dan kelaparan di dalam gerbong barang. 

Sebanyak 54 pejuang yang sebelumnya menjalani perjalanan penuh siksaan tanpa diberikan makan dan minum itu akhirnya di buikan di penjara Koblen ini. Banyak para pejuang kita dan juga tawanan Jepang yang disiksa, dibunuh, di tempat ini. Namun banyak pula yang akhirnya bebas.


pada tahun 1948, tawanan penjara Koblen akhirnya bebas akibat pemberontakan massif para pejuang yang melawan. Para tawanan ini adalah mereka yang di angkut dari Penjara Bondowoso.Pengakutan ini dilakukan secara bertahap hingga 3 kali, yang terakhir dan terkenang hingga kini adalah pada tanggal 23 November 1947, para pejuang kita meninggal terpanggang di dalam gerbong barang yang saat ini disebut dengan gerbong maut.

Bangunan Penjara Koblen terletak di Jalan Koblen. Letaknya tepat di Belakang Marinir yang berhadapan dengan BG Juction. Bangunan Penjara Koblen yang tersisa hanyalah berupa tembok panjang yang berkeliling, beserta dengan beberapa pos pantau yang masih sangat jelas. Konstruksi bangunan ini adalah batu besar, dan semen. Bangunan tembok yang mempunyai ketinggian 3 meter ini hanya berfungsi sebagai lahan parkir oleh warga sekitar, kadang juga lahan ini dimanfaatkan anak-anak sekitar untuk bermain sepak bola.

Pada tahun sekitar 2014, ada wacana Pemkot Surabaya yang akan mengubah dua penjara antara lain Penjara Koblen dan Penjara Kalisosok ini menjadi wisata herritage di Surabaya. Namun sampai saat ini, nampaknya tidak banyak perubahan yang terjadi di kedua penjara itu. Seperti halnya penjara Koblen yang hanya menyisakan bangunan dinding saja, Penjara Kalisosokpun sekarang hanya terongsok, tertutup rapat dan tidak terawat.


Pintu Masuk Pos Pemantauan/ IS : Mas Jun
Mungkin yang ingin kesini, saya sertakan peta yang akurat dibawah ini :


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer